Suasana restaurant tempat kami mengadakan acara jamuan makan tampak sederhana, tidak seperti makan malam sebelumnya yang dilakukan di hotel mewah atau restaurant yang elegant. Makan malam kali ini diadakan dipinggir pantai dengan berhiaskan cagak-cagak lampu, lampion yang berada diatas kami dan lilin disetiap mejanya yang menambah kesan romantis ditempat ini. Aku datang dengan teman-temanku.
Tadinya Raven mengusulkan untuk
mengendarai mobil mewah itu sendiri-sendiri namun aku menolaknya. Akhirnya kami
ber empat berangkat dengan mobil Audi yang dikemudikan oleh Andrew, karena
mulai siang tadi Audi tersebut menjadi miliknya selama kami berada di Lombok,
ya… meskipun itu adalah barang pinjaman—
Ohya kemana dia? Aku belum
melihatnya malam ini.
iPhone ku menunjukan pukul 06.58
Ingat. iPhone ku. Bukan pemberian
iPhone Emir.
iPhone pemberiannya dan seluruh
barang mewah itu masih tersimpan rapih pada tas hitam dan mungkin aku akan
mengembalikannya secepatnya.
Tepat pukul 07.00 suara gemuruh
terdengar dari pintu masuk menuju restaurant tepi pantai, aku yakin itu adalah
Emir dengan petinggi yang lain.
Selalu tepat waktu, batinku.
Aku saat ini tengah duduk bersama
Dinda, Andrew dan Raven disalah satu kursi yang sedikit dipinggir dan memojok
karena aku tak ingin bertemu dengannya. Dan benar saja seorang pria berpostur
tubuh tegap dan memiliki rahang yang tegas dengan kemeja hitam dan celana bahan
dengan warna senada memasuki restaurant ini dengan sedikit kalem namun tetap
bisa mengeluarkan aura dinginnya. Oh! Bahkan dia tak sendiri! Disampingnya
seorang wanita berparas manis dan cantik dengan gaun hitam diatas lutut
mendampingi langkahnya. Membawa sebuah Tas yang berwarna hitam pekat dan heels
yang sangat tinggi. Rambutnya yang hitam dan panjang diterpa angin menimbulkan
kesan tak kalahdingin seperti pria yang berada disebelahnya. Dari jalannya aku
bisa mengatakan bahwa ia adalah seorang yang high class. Dan aku…?
Kini aku memandangi gaun yang aku
pakai, gaun merah tua tepat setinggi lututku dan flatshoes.
“Kenapa? Minder?” Tanya Andrew
duduk tepat disampingku.
“Engga lah, dia bukan
siapa-siapaku,” Ucapku yang mendusta pada hatiku sendiri yang merasakan
gelenyar aneh.
Apa? Gelenyar Aneh?
HEY! Apa yang barusan kau katakana Cat! Kau Cemburu?!
Tidak,