Tampilkan postingan dengan label EmirLoveStory Tak ada yang Tak Mungkin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label EmirLoveStory Tak ada yang Tak Mungkin. Tampilkan semua postingan

Jumat, Mei 17, 2013

Emir Love Story "Tak ada yang Tak Mungkin" Part 38 (END)

Emir masih setia duduk disebelah makam gue. sendiri.. sampai seseorang menepuk lengannya. Tapi Emir tak menoleh dan menanggapinya. Seseorang itu memberikan secarik kertas kecil kepada Emir dan membacanya..


Dear, Emir. 

Thanks for everything
That you give for me
Im probably much too late
To apologize my mistakes
Now, 
Its just to late and we cant go back
Im so sorry. 
But i just want you to know
I Love you more 
than you know.

Love,
Your Angel.


Setelah membaca itu, emir menoleh. Tak ada seseorang pun dibelakangnya saat itu. Emir hanya bisa tersenyum. 



"Aku tahu kamu masih disini melihat aku.. Tapi sayangnya aku tak bisa melihat kamu lagi. Semoga.. kamu mendengar ini.."

Emir menghembuskan napasnya secara perlahan.
"Kamu adalah satu-satunya orang yang bisa merubah hidupku menjadi lebih baik seperti ini. Semoga kamu disana tenang.. Pasti banyak orang yang kehilangan kamu, termasuk aku... Mungkin suatu saat aku akan bertemu kamu lagi ditempat yang lebih indah dari pada bumi. Dan.. I want you to know too. I Love You Most!" 


Dari kejauhan Bastian teriak "EMIR! Lo dimana?" Emir berdiri. Bastian segera berlari mendekati Emir. "Kenapa?" tanya emir. "Maaf mir. Kemarin gue kebawa emosi.." Emir tersenyum kecil. "Mir, lo kenapa? Lo gak mau maafin gue?" "hah? Gue udah maafin lo.. Tenang aja kali" "jadi.. kita temenan lagi?" "Iya lah.. buat apa berantem gara2 hal kecil?" "hahaha bener lo! Oia mir.. Lo yang kuat ya.. meski gue tau lo kehilangan dia banget." "Gak Bas, gue gak akan kehilangan dia. Dia akan selalu ada dideket gue. Dimanapun gue berada. Gue akan selalu ditemani Malaikat terindah gue.." 




Beberapa Minggu setelah gue gak ada diantara mereka.

Meskipun mereka sempat down parah, tapi semua kembali baik. Bahkan membaik.


Bastian, diperbolehkan pindah ke Jakarta lagi dan tinggal di apartment omnya.



Radit, sekarang gak terlalu fokus dengan pacaran. Dia udah balik kaya dulu. Lebih deket ke temen-temen kelas termasuk Emir.



Virgin&Keke, udah gak jadi anak cetil lagi dikelas. Meskipun masih ngebully orang, tapi setidaknya lebih baik.


Pak Rusdi&Mbak, mereka masih setia menemani orang tua gue dirumah. Tak jarang mereka ikut mengunjungi makam gue sestiap bulannya.

Mama&Papa, Mereka udah balik ke Indonesia! Dan menetap disini. Mama keluar dari kerjaannya. Papa pindah kerjaan. Meskipun gajinya lebih kecil, tapi ia bisa berkumpul dengan keluarga besar dan bisa lebih dekat dengan gue. Mereka mulai sadar. Uang bisa dicari, tapi tidak untuk kasih sayang.


dan.. 


Emir.. 

Gak tau harus berkata apa. Makin hari dia makin dewasa. Setiap minggu, dia selalu menyempatkan diri buat datang ke makam gue dan memberikan setangkai bunga yang indah. Setiap kali gue melihat emir datang berkunjung ke 'rumah' yang baru gue ini, ingin rasanya berbicara langsung dengan dia lagi. Tapi, kalau sudah begini? Gue hanya bisa datang ke mimpinya.. Meski hanya sekedar mimpi, gue yakin dia akan mengerti. Bahwa gue kehilangan dia dan gue akan tetap sayang dia. Meski kita sudah tak bisa kembali seperti dulu. Disaat gue masih miliknya. 


Tapi... 

Jika lo percaya, lo yakin, dan lo berdoa. Semua yang ada didunia ini, yang lo anggap Mustahil, itu gak ada! kalau Tuhan berkehendak, semua pasti akan terjadi. Siapa yang bisa melawan kehendak-Nya? Tak ada. So.. Gue pengen ngasih tau. Bahwa, semua itu bisa terjadi didunia seluas ini. Semuanya. Termasuk hal kecil sekalipun. Karena, Tak Ada yang Tak mungkin. Didunia, yang seperti ini..

END.





^^^


Part lain? Click.

Jumat, Mei 10, 2013

Emir Love Story "Tak ada yang Tak Mungkin" Part 37



"Anak saya mana? Dia kenapa?! Kenapa bisa disini?!" Kata mama Gue. Bastian tiba-tiba berdiri dan nunjuk Emir "Semua gara-gara dia tante! Dia!" Emir cuma bisa meratap. "Bas udahlah. Damai napa lo pada. Bukan dia yang salah.." Kata Radit menenangkan.

"Dia didalem, tunggu disini aja tante.." lanjut Radit. Mama gue duduk disebelah emir. Mereka berdua tak berbicara. Mama gue nangis parah. Mereka hanya bisa berdoa. Satu persatu tementemen gue dateng. Dokter keluar. Tapi dia tak berkata sepatah katapun. Anak2 kelas mulai memenuhi lorong itu. Airmata bercucuran. Emir mulai menyapa mama gue. "Tante.." tapi mama gue tak bisa menjawab. "Tante, Maaf. Mungkin dia jadi seperti ini gara-gara Emir tante.. Emir ngaku salah. Maaf kalau Emir telat ngasih taunya.." bibir mama gue terbukapun tidak. Apalagi mengeluarkan suara. "Tante, sebenernya.. Dia sakit apa?" "Kamu tidak tau?! Dia kanker darah stadium akhir! Kanker darah belum ditemukan obatnya sampai detik ini! Apa yang kamu lakukan sekarang?! Hanya menangis dan tidak melakukan sesuatu?!" "Maaf tan.. Mungkin selama ini Emir memang salah menjaga dia." "Apa gue bilang! LO YANG SALAH!" Bentak Bastian. "iya! EMIR SALAH. puas lo Bas? Lo coba diposisi gue! Lo bakal ngapain coba! kalo udah kaya gini?! Apa Bas?!" Emir pergi dari hadapan orang banyak itu. Pergi ke parkiran. Dan dengan kecepatan tinggi melaju menuju rumah gue. Semua kekunci. Halaman depan kotor parah. Daun kering berserakan dimana2 tertiup angin. Dia manjat pager dan naik ke kamar gue. Sama seperti diluar kamar gue juga gak kalah berantakan. 

Emir hanya bisa duduk dan terdiam. Semua kenangan emir dg gue, secara tibatiba muncul satupersatu dikepala emir. Dari awal, waktu kita masih musuhan. Waktu Emir masih nindas gue. Waktu Emir nyelamatin gue dari kecelakaan2.

Waktu Emir ngajak gue ke liburan. Waktu gue harus ingkar janji sama emir. Waktu...

Emir kaget melihat ipod gue nyala2. Batre low. Dia nyari charger. Dibuka semua foto dan kenangan di ipod itu. Dari foto pake jersey bareng, foto di suatu pulau, foto di taman yang indah itu, sampai emir melihat suatu video yang sangat membuat emir down. Video waktu liburan kemarin. Awal mula, gue dari penderitaan gue. 

"EMIR! Kenapa lo harus ngajak dia kesitu waktu itu?! Lo. Lo.. Bener kata bastian. Lo gak pantes jadi pacar dia! Dan ko gak pantes ada disamping dia selama ini!" Kalimat-kalimat itu melintas dipikiran emir. Semakin lama dia ditempat itu. Semakin lama dia menyalahkan dirinya. Tak lama phone emir berbunyi. Tertulis Radit di screen. Dua kali emir mengabaikannya. Untuk yang ketiga ini dia mengangkatnya. 

"MIR! lo dimama?! Dia butuh lo sekarang!" terdengar ditelinga emir suara tangisan dari banyak orang. Tetap emir tak menjawab. "EMIR! Gue serius! Dokter udah nyerah mir! Dia mangil nama lo terus! Percaya sama gue! Gue gak akan pernah bohong sama lo!" "dit. Gue gak bisa kesana." "WOY! Buka mata lo mir! Buka hati lo!  Lo tega banget sama dia! SADAR MIR! Dia itu pacar lo mir!" "sekarang udah gak dit." "Gue mohon mir. Kasian gue ngeliat dia..." "Gak bisa sekarang dit! Gu...e.." emir berhenti berbicara. Dia mendengar suara sangat lembut dari telephonenya yang gak asing buat dia, berkata:"to..long pang..il e..mir.. ak...u bu...tuh di..a.. se..ka..rang.." Mendengar itu emir langsung pergi ke RS...

Kendaraannya melaju lima kali lebih cepat dibanding sebelumnya. Sesampainya disana, emir udah ditunggu sama semua orang. Dia langsung masuk ke ruangan gue yang tadi. Papa&mama gue sdh berkumpul. Radit, bastian, keke&virgin. Saat emir masuk, ia langsung ditarik Radit buat ada disamping gue.Tanpa rasa malu emir menyentuh pipi gue, sempet mama gue pengen narik emir. Tapi ditahan papa gue. "Kenapa kamu nyari aku?" kata emir lembut. "mir.." "iya kenapa?" "ini..semua..bukan..salah..kamu..." semua orang diruangan itu tak bisa berhenti menangis, termasuk emir. "i..ya.." jawabnya. Dengan susah payah gue mengucapkan katakata terakhir. "i love you..." dan akhirnya gue menutup mata. Emir hanya bisa memegang erat tangan gue. "I love u too. I'll miss u." Air mata gue sempat turun beberapa kali. Sampai akhirnya gue pergi untuk selama-lamanya. 

Esok hari, semua teman dan saudara gue berkumpul mengenakan pakaian hitam. Terlihat sekilas, mata mereka penuh dengan air mata. Emir berdiri paling belakang ditemani radit. "Mir.. Tabah ya.." radit merangkul emir. "Dia pasti akan inget lo dari sana.. Lo harus percaya itu" lanjutnya.
Setelah semua selesai, tersisa sahabat dan keluarga kecil gue. Emir mendekati kedua orang tua gue. Dengan rasa takut yang menyelimuti hatinya, emir memberikan secarik surat yang pernah gue titipin.
"Tante, om.. Ini.."
Perlahan mereka membacanya. 



Dear
Dad&Mom

So long ya..
Mungkin kalau mama atau papa membaca surat ini.. Adek udah gak ada
Makasih ya pa-ma.. Untuk semua kasih sayang yang udah papa mama kasih buat adek. Meskipun selama ini papa-mama jauh dari adek. Tapi adek tetap bisa merasakan hangatnya kasih sayang kalian.


Maaf ya ma-pa, aku gak bisa jadi anak yang baik. Maaf selama ini adek selalu bikin mama papa panik. Maaf selama ini adek selalu sakit-sakitan. Adek gak bisa seperti anak-anak lain. Yang bisa membanggakan, dan bisa membahagiakan kedua orang tua-nya. Sementara adek.. Harus keluar masuk RS terus. Dan ini pa.. Ini ma.. Ini puncaknya.

Ma-pa. Semua ini sudah jadi jalan hidup adek.. Yang diberikan Tuhan buat adek. Adek mohon, mama atau pun papa jangan menyalahkan seseorang yang selama ini selalu ngurus dan ada buat Adek.. Dia telah melakukan yang terbaik buat adek. Dia sudah menjadi pengganti kalian saat kalian tak ada disisi adek.

Adek akan selalu ada buat mama dan papa.

With the great love,
Your daughter.
 




Setelah membaca surat itu, mama gue memegangnya dengan erat. dan memeluk emir. Wajah emir berubah. Emir tak mengerti apa yang mama gue maksud, karena ia tak tahu isi surat itu. Mama gue menangis dipundak Emir. "Tante kenapa menangis?" "Emir, maaf.. selama ini tante salah." Emir binggung harus menjawab seperti apa. Papa emir menyaut. "Dek Emir, Trimakasih selama ini kamu sudah menjaga dia sampai detikdetik terakhir dalam hidupnya.." "i..iya om.. tante.. Emir juga mau minta maaf, kalau Emir salah." "Bukan, bukan kamu yang salah.. Kamu tak pantas menuduh dirimu sendiri.." Kata Mama gue. Beberapa jam kemudian, orang tua gue pergi meninggalkan tempat itu. 



^^^


Part lain? Click.

Senin, Mei 06, 2013

Emir Love Story "Tak ada yang Tak Mungkin" Part 36

Midnight. 
Gue terbangun. Emir berada disamping gue lagi tertidur. Untung kali ini gak terjadi apa2. Gue mengambil secarik kertas&pulpen. Menulis apa yang ada dihati dan pikiran gue sekarang. setelah itu gue hanya memegang tangan emir. 

"Good night babe. Thanks for all. i love u" 


gue tertidur lagi. Gak beberapa lama emir kebangun dan melihat tangan gue ada ditangan dia. Emir hanya membenarkan posisi selimut gue. Gue kebangun. "eh sorry, kamu jadi kebangun" "gak kok" "udah tidur lagi.." "mir, seandainya malam ini, malam terakhir aku. Dan belum pamit sama mama-papa aku, tolong kasih ini ya.." gue ngasih surat yang tadi gue buat. "Malam terakhir? Apa maksudnya?!" 

Cengen abis gue. Air mata gue gak bisa gue bendung lagi! 

"Dari jauh sana.. Pasti aku akan merindukan kamu mir.. Jaga diri kamu baik2 ya. I always love you."

Gue memejamkan mata. Diluar dari diri gue, Emir masih bingung dg kata2 gue. Dia melontarkan beribu2 pertanyaan, tapi tak ada satupun dari pertanyaan dari Emir itu yang gue jawab. Tambah bingunglah dia. Mungkin ini saatnya gue barus berpisah dengan dirinya. Gue berdoa. 

"Tuhan.. Tuhan yang baik, aku lelah Tuhan. Lelah untuk menanggung semua ini. Tuhan pasti tahu apa yang aku inginkan. Satu pintaku ya Tuhan. Tolonglah Engkau sampaikan kepada semua teman-teman yang pernah aku kenal, kepada sahabat-sahabat yang paling aku sayangi, kepada semua orang yang telah membuat aku bertahan sampai detik ini
dan tolong sampaikan kepada kedua orangtua aku. Bahwa aku mencintai mereka dari hatiku yang terdalam.."

Diluar hujan deras mendera RS itu dan sekitarnya. Emir segera lari,mencari suster ataupun dokter. Sementara mbak yang diluar mencoba menelpon semua orang tua gue. Semua panik parah. Termasuk juga dokter. Emir hanya bisa menunggu diluar. Setetes demi setetes airmata berlian membasahi dilengannya. Tak beberapa lama bastian datang. "EMIRRRR! DIA KENAPA?" emir cuma bisa diam. "Mir! Kasih tau gue Mir!" tetap saja diam. "Mir! Denger gue! Kenapa dia?! Kenapa dia bisa kaya gini?!" bentak bastian yang panik berat. "Gue gak tau Bas! Liat aja didalem! Liat Bas! Liat! Mungkin ini salah gue.." "Jadi lo?! Yang buat dia kaya gini?!" amarah bastian memuncak dan semakin memuncak. "dia keujanan pas gue ajak jalan" "gimana sih lo? Lo pacar dia bukan?! Kenapa lo! Biarin dia! Keujanan!?" Bastian ngangkat kerah emir. "Liat mata gue lo! Lo itu gak pantes jadi pacar dia! Lo gak bisa jagain dia!" hampir aja bastian mukul si emir, sebelum dilerai sama Radit. "Woi! Lo ngapain berantem? Lo gak liat dia lagi didalem?!" seketika bastian jadi luluh hatinya. 


Berjamjam mereka menunggu. Sampai sang surya menampakan cahayanya pun, tak ada keterangan yang jelas dari pihak rumah sakit
Detak suara sepatu terdengar. Radit, Bastian, dan Emir menoleh ke sumber suara.
"Tante..?!!"


^^^


Part lain? Click.

Jumat, Mei 03, 2013

Emir Love Story "Tak ada yang Tak Mungkin" Part 35

Emir pun menjawab pertanyaan gue dengan perlahan.. 
"tadi jantung kamu gak stabil. Dokter datengnya lama banget. Aku bingung harus ngapain. Dari luar aku cuma bisa liat kamu ... Beberapa kali gagal. Sampai dokternya udah putusasa.. Pas dokternya keluar, aku mohon2 buat nyoba sekali lagi.. Dan hasilnya... :)" 
mendengar perkataan itu gue langsung memeluk emir. "Harusnya bukan kamu yang ada diposisi ini. Harusnya aku. Andai Tuhan mengabulkan doaku, aku ingin bertukar posisi denganmu.." "mir.. Udah jangan ngomong gitu.. Aku masih kuat mir.." segerombolan orang mengelilingi kita berdua. Mereka anak2 kelas dan orang2 yg deket dg gue. Semua dateng.  Mereka berdoa utk kesembuhan gue. Saat mereka keluar, terdengar langkah kaki yg cepat mendekati kamar. Dari jendela anak kelas mengerubungi orang itu. Dia pun masuk, dan mendekat ke gue dan emir. "Bastian?" tanya emir. "iya ini gue!" Mereka berpelukan ala anak futsal.(?) "Lo kenapa?" matanya bastian berkaca2 melihat gue seperti ini. "gue mikirin lo terus gila. Gue kangen sama kalian. Sampe kebawa mimpi!" "hahaha bastian lebay nih" kata gue. "serius! Tadi malem gue dapet kabar lo masuk rs. Saat itu juga gue mesen tiket. Utungnya dapet :D" kita bertiga saling ngobrol dan ngobrol. Radit dateng juga disaat yg pas. Melepas kerinduan yang panjang. 
Terlintas dibenak gue, kalau gue gak sakit kaya gini mungkin gak akan ngumpul seperti ini ya?
"Bas, lo balik kapan?" tanya Emir. "Belom tau, gue belom mesen tiket balik.. Rencananya gue mau nemenin lo, mir. Buat nungguin dia.."
"halah.. Boong tu mir! Bisa aja cari alesan dia! Bilang aja lo mau nemenin dia disini." cela Radit. "eh apaan sih lo dit?" gue sama emir cuma bisa ketawa melihat mereka berantem kaya anak kecil. "mir serius mir, bukan itu maksud gue" "iya. Gue tau" kata emir. 

Tuhan mungkin memberikan waktu untuk gue melupakan sejenak penyakit gue dan tertawa bersama mereka.


Malemnya.. Tersisa emir dan bastian diruangan.
"kalian.. gak pulang?" "pulang mah gampang nanti.." kata bastian. "Eh, lo nanti nginep dimane bas?" tanya emir. "deket sini, om gue punya apartment. Jadi gampanglah. Tinggal jalan aja sampe" "Mir, kamu disitu aja.. Dari pada kamu harus tidur dibangku gini.." bujuk gue. "Sini aja lebih enak." kata emir. Tapi bastian bilang "oia bener tuh mir! Biar temenin gue" "ye. Emang lo sakit harus ditungguin? :p" "yeh lo. Batu banget dibilangin sama pacar lo sendiri" "pacar gue dia bukan lo:p" "Tau ah." "hust udah lah.. Kalian apa sih berantem kaya anak kecil gitu" "hahahaha bercanda kok sayang..." "Gue gak dipanggil sayang juga mir?" mereka saling menyela tanpa berujung. Sampai gue ketiduran..

Jumat, April 26, 2013

Emir Love Story "Tak ada yang Tak Mungkin" Part 34


Gue coba telpon emir lagi. 
"Hello?" "Mir?" " ya? Aku lagi dijalan.. Tunggu ya. Aku pasti kesitu" 
Yah.. Emir gak bisa ditelepon. Gue tunggu satu jam, tapi belum juga datang. Sampai gue ke tiduran, dan membuka mata kembali sampai pukul 9pagi. Pusing mendera kembali. Satu yang ada dipikiran gue. Kenapa harus gue yang penyakit gak jelas ini? Penyakit yang belum diketahui ini?
Bangun2 gue udah pindah kamar lagi. Alat yang gak jelas itu tambah banyak disekeliling gue . Ruangan yang besar dan hanya gue didalamnya. Gue menunggu sampai ada orang yang sadar bahwa gue udah bangun sekarang. Sampai jauh didepan gue terlihat dibalik kaca jendela ada yang menengok ke dalam. Gue segera melambaikan tangan gue meskipun lemes. Dan dia menyadarinya. Segera dia masuk, dan ternyata itu Emir. "Eh kamu udah bangun ya.." gue pengen bilang bilang, gue kenapa? Tapi emir ngelarang gue buat lepas alat yang nutup mulut gue tu, dan dia mengembilkan secarik kertas dan sebuah pulpen. Gue menulis pertanyaan gue tadi. Emir menjawab "kita belum dikasih tau.. Harus orang tua kandung yang dikasih tau pertama. Tapi aku yakin.. Kamu gak kena penyakit yang parah. Kamuan kuat! :)" gue nulis lagi. "Mama lagi diluar" emir jawab "iya.. Kita lagi nyoba hubungin mama kamu, tapi..ya.. nihil" mendengar perkataan itu gue hanya bisa menutup mata dan meneteskan air mata yang lumayan deras mengalir. "Kamu jangan takut.. Aku akan selalu disamping kamu, sampai mama kamu datang kesini.. Aku janji. Janji sejanjijanjinya.. Kamu pasti bisa ngelewatin ini! Kamu kuat! :)"
Dia cuma bisa bilang kuat! Tapi dia gak pernah tau gimana perasaan gue sekarang! Gimana sakitnya nahan penyakit ini! Gimana sakitnya ditelantarkan orang tua disaat2 kaya gini! Dia gak pernah bisa jadi gue.

"Udah jangan nangislah.." dia menghapus air mata gue. Gue mencoba tidur, ingin rasanya gue bisa bertemu mama gue lagi seperti waktu kemarin. Gue memikirkan mama gue lagi, sampai kepala gue pusing berat, akhirnya gue bisa melihat kembali mama gue didepan mata gue. Masih aja sibuk. Gue berusaha mencari phonenya, meskipun gue harus merakak sekalipun. Gue menjatuhkan hpnya yang membuatnya kaget dan menyentuh phonenya.
"misscall?" dilihatnya misscall dari nomer gue, mbak, pak rusdi dan rumah sakit. Sebelum gue berbicara dengannya, dada gue kaya ketusuktusuk sakit gak bisa ditahan. 
Gue kembali kedunia nyata. 
Mata gue membuka dan melihat sekumpulan dokter dan suster mengelilingi gue dengan alat pembangit jantung gitu. Muka gue langsung berubah freak. Muka mereka terlihat lega. Gue gak berani berkata2 meski alat yg menutup mulut gue tidak dipasang lagi. Mereka keluar, dan gue pun ditinggal sendiri. Dibalik kaca terlihat orang banyak berkumpul. Mondar-mandir ataupun hanya duduk dan menangis. Seorang dari mereka mendekati pintu dan masuk kedalam ruangan.
"Mir, ad..a..a..pa..?" dia tak menanggapi. Hanya duduk disebelah gue man mengelus2 rambut dan pipi gue. Dia meneteskan air mata. Seumur hidup gue selama mengenal emir, gue gak pernah sekalipun melihat air mata emir jatuh. Melihat matanya berkaca2 sekalipun engga. Membuat gue shock. "Emir kenapa?" matakita saling berpandangan...........

Jumat, April 12, 2013

Emir Love Story "Tak ada yang Tak Mungkin" Part 33


Entah kenapa. Didalam tidur.. Gue seperti melihat sosok perempuan yang gue rasa, gue kehilangan dia sekarang. Mama gue! Dia lagi mondarmandir disuatu ruangan. Gue muter2 ruangan itu, mencari tau gue dimana. Gue melirik ke jendela. Dari apa yang gue lihat, gue sepertinya sedang berdiri didalam gedung pencakar langit. Gue keluar dari ruangan itu. Mata gue langsung tertuju pada frame2 foto. "Kayanya gue pernah liat gedung ini.. Hmm..." gue liat frame yang ada disebelahnya. Isi frame itu adalah beberapa gambar gedung yang sama.. Seperti proses metamorfosis kupu-kupu, gambar gedung ini juga sama seperti itu. Dari awal gedung ini dibangun, sampai menjadi indah.  "Gue rasa gue lagi ada digedung ini.. Tapi dimana?" Mencoba inget2 dan Ya! Ada tulisannya "Empire State Building, New York" 
"anjrt! Gue di new...york?! Berarti tadi bener mama guee??!!" gue segera mencari ruangan tadi dan juga nyari mama gue. Gue memerhatikan dia dari jauh. Sibuk. Banget. Parah. Kesana kesini. Ngambil&Menaruh banyak berkas. Sampai dia berhenti sejenak dan duduk disebuah sofa. Gue mendekat dan duduk disebelahnya. Gak nyangka bakal bertemu dengan dia disini. Merebahkan kepala gue dibahunya. Ia membuka phonenya. Gue melirik. Ternyata, mama gue ini menyimpan foto gue. Entah dari mana. Ada juga foto gue sama emir. Dia menelpon hp gue. Tapi toh. Gak ada jawaban dari gue. Airmatanya menetes. "pasti kamu lagi tidur ya.. Maaf ya mama ganggu tidur kamu. Maaf mama gak ada disebelah kamu sekarang. Mama janji bakal ngeluangin waktu buat kamu. Mama sayang banget sama kamu dek.." Lama2 gue juga ikutan sedih. Meskipun mama gak tau kalau gue mendengar itu. Selama ini gue salah. Mengira mama gue yang sibuk sendiri dg kerjaannya dan melupakan gue yang jauh dari dia. Ternyata.. Pengen gue bilang maaf juga ke dia. Gue salah besar memang menuduh dia seperti itu.Saat gue ingin mengusap pipinya yang penuh dengan air mata, tiba2 gue merasa pusing berat. Saat gue membuka mata. Gue udah gak berada disebelah mama lagi. Gue di.. Kamar! Ya! Mendengar suara yang gak asing ditelinga. Gue mencari sumber suara itu. Ternyata? "Bastian?!" dia lagi sibuk main playstation. Lama gak ngeliat dia.. Jadi kangen gue.. Melihat jam yang ada dimeja, udah pukul 2pagi. Tapi bukan itu yang menarik perhatian gue. Disebelah jam itu, berderet frame foto gue, emir, radit, dan bastian sendiri. Waktu kita masih main bareng. Hal yang paling menyenangkan dalam hidup gue. "AH! Kalah lagi!" kata bastian sambil ngelempar stick ps. Gak sengaja gue senggol salah satu frame itu dan jatuh. Bastian sempet kaget, tapi dia mendekati gue yang tak terlihat olehnya dan mengambil frame itu. "kayanya gue kehilangan kalian" lanjutnya. Dia membawa salah satu frame ketempat tidur, yang isinya foto waktu dibandara, sebelum dia pergi. "Kapan ya gue bisa balik? Kumpul sama kalian lagi?" Sebelum gue mau ngobrol sama bastian, gue pusing lagi. Dan membuka mata. Gue melihat radit lagi tidur. Sebelum gue mendekati gue, kepala kembali pusing. Dan gue melihat Keke dan virgin dikamarnya masing2. Sama seperti sebelumnya. Kepala gue kembali pusing. Gue bertemu mbak dan pak rusdi. Gue melihat semua orang yang paling gue sayang. Sampai gue gak kuat lagi buat berdiri
dan melihat sesuatu didepan gue sekarang. Berdiam diri dan menutup mata. Sampai gue rasa gue udah gak terlalu pusing, guepun membuka mata. Terkejut melihat seorang lakilaki terbaring diranjangnya. "Mir?" jarang gue melihat emir memejamkan mata. Gue mendekati dia. "oh damn, u so cute babe." memegang pipinya yang selama ini belum pernah gue sentuh. "Sorry if i always make you worry. Sorry if i always make a mistakes. Sorry if i always make a trouble. Sorry if i was your troublemaker of your life. Im so sorry. I just want to make you proud. But, maybe im never gonna be good enough for u. Sorry. I love U." Saat itu juga phone emir berdering. Background phone dan lock screen dia foto gue.. Dia bangun. Gue pusing lagi. Dan saat gue membuka mata.. Gue melihat mbak gue disamping lagi tidur disebelah ranjang gue. Tapi? Mulut gue? Ditutup pake suatu alat gak jelas. Gue menyentuh tangan mbak gue. "Eh non. Maaf ya mbak tidur disini." Gue menunjuk2 alat itu. "jangan non.." Akhirnya gue membuka secara paksa. Lemes banget. Infus dan alat2 lain yang asing buat gue, terlihat dimana2. "Mbak.. Aku kenapa?" "Tadi kamu kejang2 non" "hah? Kejang? Terus, siapa yg suruh sini?" "Mbak sama pak rusdi non.. Tapi udh bilang nyonya" "oh.. Sekarang jam berapa mbak?" "jam... Jam lima kurang" "mbak handphone aku.." Gue mencoba menelpon emir. tapi gak ada balesan. 

Emir Love Story "Tak ada yang Tak Mungkin" Part 32

2tahun berlalu.
Badan gue tambah parah! Gak enak banget. Kaki gue gak bisa digerakin di waktu2 tertentu. Setiap malem gue pusing gak ketonongan. Ortu gue gak balik! Masih aja sama kerjaannnya itu! Radit sibuk sama pacarnya. Bastian? Dia keluar dari sekolah. Keluarganya pindah ke spore. Keke&virgin? Emm.. Gak tau gimana kabarnya. Gue jarang ketemu. Dan cuma satu orang yang ngertiin gue. Satu org yang masih setia sama gue. Emir.
"halloo! Selamat pagi!" suara emir keluar dari hp gue. Alarm biasa kerjaannya itu anak.

06.00 Gue otw ke sekolah.
Emir udah nunggu didepan gerbang. Pak Rusdi (Supir setia gue) ngambil kursi roda dibagasi. Ya, semenjak 1tahun lalu. Kaki gue.. Gak sempurna lagi :' hari ini sekolah pulang cepet. Emir katanya mau ngajak gue ke sesuatu tempat. Tapi katanya lumayan jauh. Ya, terpaksa harus naik mobil. Skip.
"Kita dimana mir?" "liat aja dulu.." Entah dimana. Gue binggung. Gue turun, gak lupa emir yang dorong kursi roda gue.Ternyata.. Taman. Taman yang luas, bagus, rapih, terawat, indah."kenapa kita kesini?" "emm.. jadi gini. Kemaren aku baca, kalo pikiran jernih, penyakit apapun bisa disembuhin. Aku pikir disini, pikiran kamu bisa jernih dan bisa seger lagi.." *Mir.. Gue deket lo aja udah seger..* "oh.. Keren mir.. Aku suka"

Kita muter2. Sampai matahari hampir terbenam, memaksa kita untuk pulang.
"mir boleh kesitu?" nunjuk sebuah kolam ikan yang ada air mancurnya. Emir cuma tersenyum, dia langsung dorong kursi roda gue ke tempat yang gue tunjuk. Melihat ikan yang bergerak secara bebas kesana kesini di air. Gue pengen kaya gitu lagi! Meski gue tau. Itu mustahil! Tanpa terasa air mata gue menetes. Emir pegang tangan gue. "Di dunia yang seluas ini, gak ada yang gak mungkin.." Emir menatap mata gue. "kalau kamu percaya, pasti semua akan terjadi.." lanjutnya. Masih diam ditempat itu. Emir menghapus air mata gue. Seketika hujan turun rintikrintik ditaman itu. "aduh.." kata gue sambil megang kepala. "kamu kenapa? Pusing? Jauh banget lagi mobilnya!" muka emir keliatan bingung&panik. Tiba2 dia ngelepas seragam sekolahnya. Emir langsung ngasih seragamnya ke gue buat nutupin kepala. "maaf ya.. Aku gak bawa jaket. Jaketnya ditas.." Ngeliat emir cuma pake rider tipis tanpa lengan gitu, gue langsung bilang ke emir: "gak usah mir.. Nanti kamu sakit" "biar aku yang sakit.. Dari pada kamu nanti tambah parah!" Tanpa basabasi lagi emir langsung mendorog kursi roda gue ke mobil.


Hujan semakin deras. Kepala gue makin pusing. Mobil belum keliatan juga. Gue berbicara dalam hati. Please, lo jangan pingsan. Cuma sakit kepala doang juga. Lo harus kuat! Kasian nanti emir dimarahin sama mama terus!
Didepan terlihat seseorang membawa payung, pak rusdi."Pak! Disini!" teriak emir. Pak rusdi mendekat. Mata gue mulai kunang2. "Bapak anterin dia aja ke mobil sekalian payungin. Saya yang ke mobil sekarang, saya siapin dulu tempatnya." "nanti adek keujanan?" "udah gapapa!" Emir segera lari ke mobil. Mendahulukan gue dan pak rusdi. Sampai gue berada. 
Persis didepan mobil. Emir langsung pindahin gue ke dalam mobil, meski tangan dan seluruh badannya basah kuyup. Skip. Didalem mobil, Emir duduk disebelah gue. "Sekarang kita kemana?" tanya pak rusdi. "Rumah dia aja. Saya pulangnya gampang" bales emir. Dia buka kaos rider yang satusatunya melekat ditubuhnya dan langsung masukin ketas. "Emiiirrrr!!!" gue buang muka "ehh sorry sorry. Aku lupa.. serius.." Daridepan pak rusdi cuma bisa tersenyum kecil. "udah gapapa kali dari pada nanti aku kedinginan hahaha" kata emir.Gue masih buang muka. Gue masih terasa pusing dan kedinginan. Mungkin.. Gue gemeteran saking dinginnya hujan dan ac mobil, jadi emir ngasih jaketnya buat ngelindungin gue dari hawa dingin yang menusuk kulit gue ini.
Skip. Kita langsung masuk rumah. Gue mengabaikan sakit di kepala gue ini untuk ngambilin emir baju yamg cocok buat dia. "Adanya ini mir.. Baju kama gue, tapi kaos cowok kok" "yaudah. Ini juga gpp" Skip. Gue sempet makan malem sama emir, mbak dan pak rusdi. Meskipun dengan makanan yang sederhana. tapi, gue rasa. Ini keluarga kecil gue. Orang2 yang selalu ada buat gue selama ini. Mereka mencintai dan menyayangi gue tulus. Tulus dari hati mereka yang terdalam. Meski gue tau, gue masih punya papa&mama yang asli. Tapi dimana sekarang mereka? Huh.. Sibuk dg urusan masing2. Gue ke kamar. "kamu sekarang tidur ya.. Biar gak tambah sakit.." "iya emir :)" "ily" "ilysm" Emir keluar dari kamar, sementara gue mencoba unituk tidur.

Jumat, April 05, 2013

Emir Love Story "Tak Ada yang Tak Mungkin" Part 31

Esok hari saat matahari terbit, gue terbangun. Tak seperti pagi diharihari sebelumnya. Burung berkicau dan sinar yang menyelip dari tirai menyatakan pagi ini lebih indah dan sangat indah☀ Gue mendengar suara pengorengan. Tak lama membersihkan wajah, gue keluar dari kamar. Melihat emir masak didapur kecil digubuk kita. "Emir? Ngapain?" "Eh maaf, kamu kebangun gara2 aku ya? Maaf banget ya.." Gue mendekati emir. Penasaran dengan makanan yang dibuat emir. "Kamu bikin apa?" "Emmm.. Cuma nasi goreng biasa" "mau aku bantuin?" "Gak usah, kamu duduk aja, bentar lagi udah mau jadi" "bener?" Dia mengangguk. Ya, apaboleh buat. Gue duduk dimeja makan menunggu makanan datang dari prochef. Tiktoktiktok. Akhirnya Emir datang.. Membawa dua buah piring dengan nasi goreng dan telur. "Ini buat kamuu.. Nasi goreng special buat orang yang lebih special!" "Apasih mir.. Pagi2 udh ngegombal aja" kita tertawa dan tersenyum. Sampai akhirnya makanan kita selesai dan dia berbicara sesuatu yang membuat gue terkejut. "Kita balik nanti siang.." "Apa mir? Balik?" "Iya..." Kalimat yang memang gak pengen gue dengar dari kemarin. "Tapi, emang gak bisa diundur besok atau? Lusa?" "Gak bisa, kamukan harus konstrol, kaki kamu itu" "ahhmirrr, please kita nanti besok pagi aja ya baliknya?" "Gak bisa, nanti juga ada yang mau nginep disini juga" pupus harapan gue buat nginep disini lagi. gue berdiri dari kursi "Ya.. Aku beres2 dulu" tapi emir malah mencegah gue dan pegang tangan gue. "tapi kamu gak marahkan?" Kata emir sambil melempar senyuman manisnya. "Aku ikut kamu aja" gue langsung kekamar. Beres2 dan menaruh tas diluar. "Miiiiirrr? Kita balik jamber yaa?" krik... "Miiiirrr?" Krik... "Mir?! Kamu dimana?" Mencari emir dari meja makan, toilet sampai kamarnya. Dia gak ada. Gue duduk diruang tamu, menunggu emir. "Ini anak mulai deh, keluyuran gak jelas! Jahat dia! Gak ngajak aku." Menunggu.. Nunggu.. Lama.. Sampai akhirnya. Suara sepatu melangkah terdengar dan membuka pintu. Wajah gue bosen banget "Kamu kenapa?" G:"ah mir, dicariin kemana2 kamu malah keluyuran" E:"aku kira kamu masih lama" G:"kita balik jamberapa?" E:"1jam lagi kapal berangkat, kita ke jakarta, ke dermaga dulu" dia menjulurkan tangannya. "Mau kemana?" "Ikut aja" gue ikutin apakata emir. Kita berjalan mengelilingi tempat ini. Berdua. Gue yakin gue gak akan pernah ketempat seperti ini lagi. Sampai beberama menit kita lewati kita menaiki kapal yang udh disiapin. Tiba2 ada laki2 gitu deketin kita. Dia julurin handy cam. E:"oh.. Makasih ya!" "Iya.." Dia ngasih handycam gue. Hampir aja handycam gue ketinggalan disini. Soalnya gue lupa asli. Skip. Menikmati indahnya laut selama perjalanan. Sedih rasanya ninggalin tempat itu. Tapi, waktu gak bisa dihentikan.. Sayang ya ;'(
Sampe dermaga kita langsung naik mobilnya emir. E:"langsung balik?" G:"mau kemana lagi emang?" E:"makan siang?" G:"ya.. Deket rumah aja mir"
Mendengar itu, emir langsung mengemudikan mobilnya kesebuah restaurant. Kita lunch. 
Skip rumah.. 
Emir bawain barang gue ke kamar. Sejenak emir istirahat. Mungkin dia kecapean nyetir. Dan akhirnya dia balik.
"Makasih ya kamu.. Udah mau ikut sama aku"
"Kembali kasih juga.. Semua itu keren banget!"
bibir emir nempel dikening gue
":) bye.. Hatihati ya! Besok aku jemput lagi"
"Iya mir ;D"
Sampai akhirnya dia pergi..

Malemnya gue ngecek handycam gue dan itu kece banget fotonyaaa \(´▽`)/ langsung gue masukin ig, tw, fb, dkk~ dan gak lupa gue langsung buat video. Sampai larut malem gue bikin itu video. Jam menunjukan pukul 2pagi. Gue baru upload ke youtube dan tidur..;'O  HAHAHA.. Niat.. Banget..Gue.. Yak...

Selasa, April 02, 2013

Emir Love Story "Tak ada yang Tak Mungkin" Part 30

Waktu menunjukan pukul 3sore.  Meskipun kaki masih lumayan sakit kita jalan ke "somewhere over the rainbow" kalo kata emir bilang. Penasaran sih pasti.. Tapi emir mau kasih kejutan apa lagi:$ perjalanan gak jauh menurut gue. Cuma berjalan beberapa menit kita sampe disuatu jembatan yang tinggi dan cantik banget. 'Jembatan Cinta'. Dua kata yang tertulis disuatu papan dekat jembatan tersebut. G:"maksudnya?" E:"kata masyarakat sini.. " Emir menjelaskan panjang lebar tapi gue tetep gak ngerti. G:"masih kurang ngerti mir" E:"hmm" emir mengajak gue melewati jembatan indah ini. E:"singkatnya, orang yang lewat sini pasti mereka bakal jodoh" gue berhenti G:"jodoh? Hahaha. Masih percaya sama gituan mir?" E:"ya.. Mungkin aja bener" G:"emiremir" kata gue sambil gelengin kepala. Yaudah gue menyetujui kita melewati jembatan ini dengan perlahan, santai, hening dan menikmati" emir tiba2 berkata dan kalimat tersebut membuat gue tercengang. Gak percaya emir bakal berkata seperti ini E:"kamu inget waktu kita masih musuhan" maksudnya emir berkata seperti ini apa? Dia mau flashback? Atau apa? G:"I..iya. Aku gak pernah ngira kita bisa kaya gini" E:"tapi sejak awal . . ." G:"pas kamu masih pacaran sama . . Tyas" E:"iya. Pas kamu masuk ke kelas.. Aku udah.." G:"udah apa?"  E:"udah suka sama kamu" G:"tapi sayangnya, tyas gak suka sama aku" E:"iya.. Maka dari itu, aku nyari waktu buat mutusin dia" G:"hahaha.. Sadis kau mir" E:"aku memang udah muak dengan tingkah anak itu.." G:"kenapa kamu macarin dia?". E:"dulu dia belom gitu.. " G:"oh.. Kasihan ya.. Udah lama gak ketemu sama dia.. Kangen" E:"hahaha.. Kangen apa? Kangen dimarahin sama dia?" G:"kalo dimarahin sama dia berarti.. Kamu juga sangar sama aku?" E:"gaklah" G:"hm.. Kalau seandainya Tuhan suruh memilih antara aku, tyas, virgin dan mantan2 kamu yang lain" emir dengan cepat membalas E:"pasti aku akan menjawab nama kamu" Gue senyum mendengar kalimat itu keluar dari mulut emir. Dia juga membalas senyuman gue. Andai waktu bisa dihentikan disaat seperti ini.. :'] tapi waktu sudah semakin sore.. Matahari mulai tenggelam. Cahaya lampu terlihat bersinar selama perjalanan menuju gubuk. Indah. Awesome. Sampai gubuk mulai kita berbenah kamar masing2. Gue nanya ke emir 
"mir, nanti malem kita kemana?" 
"Paling cuma dinner"
"oh.. Oke" 


Hmm.. Dinner.. Musti pake baju apa ya yang cocok.. Gue memilih baju diransel. Bermenitmenit gue buangkan hanya untuk memilih pakaian. Akhirnya.. Baju lengan panjang garis biru putih dan celana pendek yang gue pilih. Gak lupa bawa seperangkat jam dan gelang2 di tangan gue. Mungkin saking lamanya emir teriak "udah belom? Udah jam setengah delapan ini!" "Iya mirr.. Bentar lagi" dan.. Gue keluar dari kamar melihat emir berdiri didepan pintu mengenakan celana panjang, kaos berlengan pendek dan bermotif sama persis dengan baju yang sekarang gue pakai. "Hah?" Muka gue langsung berubah terkejut. G:"Kok baju kita.. Emang kita janjian apa?!" E:"gak. Aku gak tau kalo kamu punya baju kaya gitu" G:"ganti baju lagi nih?" E:"jangan! Udah gpp bagus banget! Cocok!" G:"ya udah :|" dengan baju kembar kita berlajan menuju restaurant yang ditunjuk emir untuk dinner kita malem ini. Melihat bangku sepasang berjejer rapih ditempatnya, dengan lilin dan itu romantis banget. Tapi sayangnya udah reserved. Mungkin nanti banyak pasangan yang lebih tua dari kita mau dinner disini juga. Tandanya kita pasangan termuda yang beraniberaninya nginep di pulau ini.. Hanya berdua. kembali mengikuti emir. Kita sampai pada meja bernomer 19. Meja yang sama seperti mejameja lainnya. Kursi, lilin, dan bunga. Yang hanyalah sebuah secarik kertas yang terikat pada bunga mawar tersebut. Kita duduk. satu persatu makanan keluar. Akhirnya desert. Perlahan menunyah makanan di first dinner with emir. So romantic dan wonderful♥ habislah makanan didepan kita. Perlahan memegang setangkai bunga itu dan membacanya. "I'm yours, now, tomorrow and forever" membuat pipi gue kemerahan. Dia tau semua tentang gue. Dia tau gimana buat gue seneng. Dia tau harus berbuat apa saat gue down. Dia tau bagaimana membuat acara yang seindah ini. Dia, tau caranya membuat jantung seseorang berdetak tak terkendali. "I Love You" -emir. "Mir:'>" gue bawa bunga itu dan selalu gue pegang.  "You make me fell better. I Love You Too!" Saling berpandangan dan tangan kita gak bisa lepas. Dunia seakan milik kita berdua. berdetikdetik, bermenitmenit, berjamjam, berharihari, bahkan berbulanbulan kita bersama.. Gak nyangka sama sekali emir bakal seromantis ini. Awalnya gue kira emir adalah sosok orang yang keras, sombong, dan gak perhatian sama sekali. Tapi semuanya itu salah! Semua udah berubah! Memang sesuatu yang mustahil awalnya untuk merubah seseorang yang awalnya buruk sekalipun. Tapi seburukburuknya dia, seanehanehnya dia, pasti suatu saat dia akan berubah! Dia akan penuh dengan perhatian, kasih sayang, dan cinta kasih. Semua ini membuktikan bahwa cinta itu mengubah segalanya. Tak ada yang tak mungkin di dunia yang seperti ini...

Jumat, Maret 01, 2013

Emir Love Story "Tak ada yang Tak Mungkin" Part 29

"KRINGKRING! KRINGKRING! KRINGKRING!" Hening.. "KRINGKRING! KRINGKRING!" G:"haaahh siapa sih nelpon!" Tidur.. "KRINGKRING! KRINGKRING! KRING.." Gue stengah sadar nyari hp. Di home screen tertulis 'mahira' dan jam menunjukkan pukul 04:05 G:"emir? Pagi2 gini?" Gue mencet tombol telfon merah. kembali tidur. "KRINGKRING! KRINGKRING! KRINGKRING!" G:"MAHIRAAAA ! GUE MAU TIDOOORRR" setelah gue berpikir. Antara angkat dan tidak. Gue putuskan angkat. E:"hai.. Selamat pagi!" G:"mirr! Ngapain telepon pagi2? Ngantukkk" E:"maaf kalau aku ganggu tidur kamu" G:"iyaiya". E:"kamu siap2 bawa baju secukupnya aja ya! Pake ransel juga gpp" mendengar kalimat tersebut banyak pertanyaan yang muncul diotak gue G:"NGAPAIN? KEMANA? BERAPA LAMA? SAMA SIAPA?" E:"udah. Pertanyaannya disempen dulu. Nanti aku jemput jam enam" G:"hah? Kamu serius?" E:"iya" G:"mir, aku nanyanya gak bercanda loh" E:"iya, aku juga" G:"mir......" E:"kamu percaya sama aku?" G:"I..iy..ya.." E:"yaudah. Jangan lupa loh ya jam enam. See you babe" telpon ditutup. 
Terus sekarang gue harus ngapain? Gue percaya sepenuhnya sama emir? Tapi gue gak mau ngecewain emir.. Tapi masa berdua? Aaaaaaaaaaaa (۳`̩ Д`̩ )۳ 
Hening sejenak..
Tapi, gue percaya sama Emir. Dia pengertian. Dia tau gue yang sebenarnya. Dia ada buat gue. Dan gue harus ada buat dia. 
OK. Fix. Gue percaya sepenuhnya sama emir. 
Gue langsung ambil ransel, masukin baju2 secukupnya dan bawa handy cam + pangeran gue- beruang. Skip jam 5.34 gue udah siap. Sepatu converse, celana panjang, kaos, ransel dan gak lupa hp. gue turun kebawah. Mbak:"non, mau kemana?" G:"gak tau mbak" Mbak:"loh? Dianter siapa? Pak rusdinya masih tidur" G:"gakusah mbak, aku sama emir" Mbak:"oh.. Mau sarapan dulu non?" G:"iyadeh.. Eh! Tapi.. Aku aja mbak yang masak" Mbak:"jangan non, nanti mbak dimarahin nyonya" G:"gak aku bilangin kok! Udah tenang" Mbak:"tapi ati2 ya non" G:"iya mbak" gue kedapur. Manasin air, terus gue masukin sosis yg udh gue potong. Gorang telor dadar. Dan dua cangkir hot chocolate. Gue tata rapi dimeja tamu menunggu emir. Pukul 5.59 ada suara mobil yg berenti didepan rumah. Gak beberapa lama ada yang ketok2. G:"pasti.." Iya bener, emir. Gue luat emir dari ujung kaki sampe ujung rambut berjambul dia. E:"kenapa? Ayo!" G:"eh mir, ini ada sarapan" E:"gak usah nanti telat" "ini buatan aku loh.." Kata gue sambil masang muka melas. Emir cuma memandang mata gue. Dia luluh lanta.. Ha.. Akhirnya dia duduk didepan gue.. 1piring berdua.. Kita mulai makan G:"maaf ya kalau makanannya sederhana banget" dia cuma membalas senyuman khasnya yang manis. Hening.. Hening.. Hening.. Breakfast yang sepi.. Tapi, dipiring tinggal tersisa 2pcs sosis. Satu diambil emir pake garpu, satu gue ambil. Emir nyodorin garpunya. E:"A.." Dengan senang hati gue buka mulut. Suapan pertama emir buat gue.. ;$ gue lakukan hal yang sama ke emir. Gue pelan2 ngunyahnya.. Merasakan enaknya disuapin sama seseorang yang gue sayangi<3
Emir segera bediri. E:"yok! Waktu berjalan gak bakal nungguin kita!" Dia ngambil ransel gue. Emir segera pergi ke mobil. Gue dibelakangnya. Hening sejenak. G:"mir.." E:"apa? Udah ayo masuk" G:"ini mobil siapa?" E:"udah masuk aja" G:"yang nyetir siapa?" E:"orang yang ada di depan kamu sekarang" jantungan gue. Mobil juke putih di samping gue dan sementara emir di hadapan gue. Dia bukain pintu mobil sambil ngulurin tangannya  E:"silahkan masuk nyonya.." G:":$" gue masuk dan emir nyusul.
Didalem mobil.  Emir julurin sebuah kain hitam. E:"pake ini dulu ya" G:"wha'?!" E:"udah pake aja" G:"buat apa?" E:"aku punya sesuatu buat kamu" G:"kamu bercanda?" E:"gaklah" G:"terus mau kemana?" E:"udah ikut aja" gue diem. Emir makein kain itu dan mobil segera berangkat. Lagu2 slow mulai terdengar. Mobil melaju dengan sangat cepat. G:"mir, hati2ya" E:"ya" berjamjam.. Dijalan. Gue ketiduran. Skip. E:"pagi! Bangun-bangun!" G:"hah..." Gue mencium bau amis dan mendengar suara ombak yang pecah. G:"kita udah sampai?" E:"sedikit lagi" G:"kita mau kemana lagi?" E:"somewhere awesome" G:"ah mir. Serius" E:"pokonya nanti aku bakal ngebimbing kamu jalan. Tapi kamu harus percaya sama aku. Kalo gak, kita gak bakal sampe tujuan" G:"ya mir" gue turun dari mobil, gue Pegang tangan emir dengan erat, karena tempat gue berpijak kali ini licin banget! Semakin lama gue jalan semakin terdengar suara ombak. E:"sekarang kamu naik tangga 3langkah" G:"ya.." E:"tangga satu.. Dua..tiga.." G:"udah sampe?" E:"belom, sekarang tangganya abis, kaki kiri langkah ke depan" gue turtin kata emir. G:"didepan gak ada pijakan mir" E:"turunin lagi.. Nah! Sekarang yang kanan" gue rasa gue berdiri disuatu papan atau plastik yg mengambang dilaut. Emir ikut naik. Gue dibawa kesuatu ruangan ber-ac yang sepi. Dan gue disuruh duduk. E:"kamu tunggu disini dulu ya" tapi gue gak mau ngelepasin tangan gue dari emir G:"kamu mau kemana?" E:"bentar, nanti aku balik" gue ngelepasin tangan emir, terdengar suara pintu terbuka dan sepertinya emir keluar. Gue meraba apa yang ada disekitar gue. Kursi lembut dan kaca. Itu aja. Menitmenit berlalu.. Suara mesin terdengar. Gue rasa yang gue tumpangi ini berjalan. Iya! Bener, kendaraan ini berjalan! Emir mana? Dia kemana? Katanya mau balik?Dia bohong! Jangan2 dia emang bermaksud ninggalin gue! 
Tapi.. Disisi lain
Gak. Gak mungkin! Emir gak akan setega itu sama gue. Dia sayang sama gue.. 
Pintu terbuka. "Maaf, lama ya?" G:"emir?" Dia mendekati dan duduk disebelah gue. "Iya.." Gue pegang tangan emir G:"kita dimana? Mau kemana?" Dia diem.. G:"emirrrr gitukan kamu. Jangan ngacangin aku gitu" dia gak nyaut. Gue lepasin tangan gue dan menjauh dari dia. Hening.. Mata gue panas. Gak bisa ketahan. Air mata gue jatuh. Harusnya tadi gue gak nurutin kata emir. Suara tangisan gue mulai terdengar. "Kenapa nangis? Aku gak bakal bawa kamu kemana2. Aku cuma mau kamu bahagia." G:"be..bener?" "Iya.. Aku sayang kamu" G:"*senyumkecil*..." "5menit lagi kita sampe" ada sedikit kebahagiaan dalam hati gue.. Degdegdegdeg. Emir mau ngasih kejutan apa ya? Skip. Suara mesin berhenti, begitupun dengan kapalnya. Suara pintu terdengar. telapak kaki mulai mendekati kita. "Selamat pagi pak! Kapal sudah sampai" "ya.. Makasih banyak" "sama-sama" telapak kaki itu keluar. "Ayo keluar" G:"I..iya.. mir" gue dituntun emir keluar dari ruangan itu, suara ombak dan amis kembali datang. Akhirnya Gue meninjakan kaki di lantai. "Pintu masuk didepan itu ya pak" "iya, nanti barangnya langsung taruh di gubuk" "baik pak" sedikit percakapan yg bisa gue dengar dari Emir dan orang lain. emir mendekati gue lagi dan menuntun ke suatu tempat berpasir. "Sedikit lagi.. Sip." G:"kita udah sampe?" "Iya bener!" G:"buka ya?" "Ya.. Tapi.." G:"apa?" "Aku bukain" emir mulai bukain penutup mata gue yang dari tadi dipasang. Samar2 akhirnya gue membuka mata. Melihat sekeliling gue, kiri kanan.. Bawah dan.. Atas. Deg. Deg. Deg. Deg. Melongo dan cuma bisa mangap. Sedikit gak percaya. G:"emir mahira...? Kamu bawa aku ke.. Ke.. Ke.." E:"kamu bisa baca kan? :)" G:"bi..bi..sa.." E:":)" G:"pu..pu.." Gagap asli. aaahhhhh gilaa<33333 G:"pu..pu..pu..la..u" E:"pulau...?" Dan ada tulisan "SELAMAT DATANG DI.." G:"emir... Aku... Gak.. Nyangka.." 
"SELAMAT DATANG DI PULAU TIDUNG" gue meluk emirrrr sekeraskerasnyaaaaaaaa<3333 emirrrr ternyata kamuuuu<33333 G:"emirrrr;'D kamuuu" E:"ini belum seberapa babe" G:"lalu..?" E:"masih rahasia.. Kita ke gubuk dulu ya! *ngeliatjam* masih 1jam lagi" G:"iya mirr.." Kita menyusuri jalan menuju gubuk. Yang ada dipikiran gue itu gubuk yang dipake sama pengemis gitu ya.. Ternyata..... Gubuk itu rumah yg dibikin jadul gitu dari kayu. Persis di depan pantai! Emirrr;O kita masuk, dalemnya bagus asli. Ada 2 kamar, ruang tv, toilet, dapur kecil, dan teras. Karena masih satu jam lagi, gue memilih kamar yang paling depan sementara emir dibelakang. Gue masuk dan bongkar tas+ganti baju. Gue keluar kamar pake celana pendek item+ucansee+converse+kacamata hitam+topi+handy cam. gue sapa emir yang lagi diteras. "Ayo mir! Aku udah siap!" Pas emir liat kearah gue... Deng... Dia diem.. Ngeliat gue dari bawah ampe atas. G:"Kenapa? Ada yang salah?" E:"eng.. enggak..ya..ya..ayo.." G:"kok jadi gagap gitu. Baju aku ada yang salah?" E:"u..udah.. bagus.. Baget..!" G:"ayoolah! Waktu gak akan nungguin kita!" E:"I..iya.. A..ku..gan..ti..ba..ju..du..lu..ya.." G:"ya.." Emir masuk ke gubuk. Gue gantian duduk diteras. G:"emir aneh ¬_¬" skip. Pintu gubuk kebuka. Emir keluar, pake kaos tanpa lengan  sama celana boxer+kacamata hitam aaaaaaa<3G:"._." E:"kenapa? Ada yang salah?" G:"eng..enggak.." E:"yaudah ayo kita lunch dulu" G:"I..iya mir.." Emir julurin tangannya G:"ta..tapi. Boleh gak aku minta satu permintaan?" E:"apa?" G:"kan aku bawa handy cam, boleh bikin video gak?" E:"boleh aja" G:"berdua ya?" E:"berdua?!" G:"I..iya.." Emir berpikir.. G:"permintaan aku cuma satu kok.." E:"hmm..." G:"boleh ya mir.. Kenangkenangan mir.. Ya.." E:"gimana ya. Aku gak terlalu suka" G:"boleh ya mas emir.. " E:"ya.. Yaudah" G:"yeeyyy!! :D :*" E:"kalau berdua berarti harus ada yang ngerekam?" G:"ohyaya.-." E:"yaudah nanti minta tolong bapak yang tadi aja" G:"nah :D ayo ke papan tulisan yang didepan tadi! Yang ada tulisan selamat datang! :D" E:"ya.." Gue narik tangan emir dan lari ke depan. E:"sabar eh" *didepan* *siapsiaptake* "oke. Siap ya.. Satu dua.. Tiga!" 
G:"haihaihai! Good morning! Selamat pagi! Kita lagi ada di..." E:"pulau tidung!" G:"disini panas banget asli.. Tapi pasti nanti bakal seru banget! Yagak?" E:"iyalah.. Siapa dulu yang ngajak.." G:"uhukk. Uhuk. Uhuk.. Telinga gue gue rebus!*tenggelem*" E:".."  G:"oke sippp! Matiin ya pak! ;D" E:"kok bentar?" G:"ya.. Nanti diedit" E:"oh.." Kita kembali melanjutkan perjalanan.. Gue tetep merekam. Apapun itu gue rekam emir yang lagi jalan, pemandangan pantai, apapun tiu termasuk kaki gue dan kaki emir juga ikut direkam... Sambil nyorot2 gak jelas gitu gue ngoceh. G:"kita lagi jalan mau lunch dulu sebelum main air. Oia ini hotel kita..*nyorotin gubuk*" E:"gubuk ya gubuk.. Bukan hotel" G:"oia gubuk! Ya buat tidur ini termasuk enak banget ya.." Skip lunch. Handycam gue taro di meja depan supaya bisa ngerekam. Gue mesen nasi goreng seafood, emir migorengseafood. Serba seafood. Sambil makan sambil bercanda.. Gak jarang kita tukeran makanan sabil suapmenyuap.. ;3 sampai makanan habis emir gak tau kalo direkam.. -_- ya bagus lah.. Sip. Kita siap2 ke tempat snorkeling. "Ya.. Sekarang saya, *namakamu* dan.." E:"PIIIP. Nama disamarkan" "eeee.. Maaf, sekarang dia lagi malumalu kucing. Biasanya over capacity PDnya.." E:"-_-" gue rekam pemandangan pantai siang panas gini. Persiapan selama satu jam. Hal apa yg boleh dan tidak kita lakukan.. Skip. Udah pake baju snorkeling. 
Suasana udah gak terlalu panas, tetapi juga gak mendung.. Gue naik kapal bareng mahira<3 pasdi jalan ada masmas seumuran kita gitu nyamperin "mau ngerekam ya?" Gue sama emir binggung. "saya bisa ngerekamin" gue makin bingung. E:"iya mas" "saya rekamin aja, biar kalian gak ke ganggu" E:"maaf, mas siapa ya?" "Saya anak yang punya kapal ini. Itu ayah saya" E:"oh.." Emir ngeliat ke arah gue. E:"berapa mas?" "Terserah.. Sukarela juga gapapa" E:"sampe sore nanti bisa?" "Bisa" emir mau. Tapi gue gak. Gue berbisik ke emir "yakin mir? Nanti handycam aku ilang gimana" E:"hm... Mas tapi aman ya" "tenang! Pasti aman" E:"ya..yaudah" G:"mir" E:"biar gak keganggu beb" G:"tapi:s" E:"kalo ilang aku yang tanggung jawab" G:"yaudah lah.." E:"ini mas handycamnya. Tinggal mencet ini aja" "oke siap. Oia nanti yang kamera air juga saya pinjamin". G:"bisa ngerekam?" "Mungkin bisa" E:"yaudah sama itu ya" "baik" dia pergi. G:"sip" E:"udah tenang" G:"tapi.. Gak aman kayanya" E:"lagian kalo dia kabur mau kemana juga. Inikan dikapal" G:"oiaya.."            Kita sampe dan bersiap nyelem. Sebenernya gue sangat amat takut dengan ikan dilaut. Soalnya yang ada dikepala gue ikan hiu dan paus coba. Emir pertama nyebur. Dia nunggu gue dibawah. G:"mir takut" E:"takut apa? Kan ada aku" G:"pokonya takut" E:"ayo sini" G:"iya sabar ya" gue mulai bersiap nyebur. *byuuur* emir langsung megang gue supaya gue stabil. E:"gak takutkan" G:"iyasih.. Aku kira airnya panas, eh dingin banget" E:"masa air laut panas, gimanasih kamu". G:"hehehe" kita dan gerombolan yg lain mulai menyusuri lautan. Asli bagus abis. Gue sama emir selalu berdua dan ngasih makan ikan yang kecilkecil itu berdua juga. Puas main sama ikan ditempat itu kita otw ke tempat lain. Tanpa sadar gue sama emir sibuk berdua. Sampe2 ngabaikan kata pelatih disana. Kita langsung nyebur. Gue rasa ini ombaknya lebih kuat dari yang tadi. Ya kita tetep aja berdua. Kita naik ke kapal paling akhir karena kita paling jauh dari org2. Gue keatas.. Baru emir. Gue merasakan sakit parah dikaki. Pas gue cek.. Kaki gue besot dimana2. Gak cuma kaki, ternyata tangan gue juga kena. G:"mir ada obat merah?" E:"buat apa?" G:"kaki aku" E:"gak punya. Aku coba tanya masmasnya aja ya" emir kembali dan langsung ngobatin. G:"perihhmirrr, pelan" E:"iya ini pelan" G:":"/" setelah itu dia duduk disebelah gue. E:"paling bentar lagi juga sembuh" G:"semoga :'/" E:"yang penting happykan beb" G:"iyaaa;') keyenn ikanikannya" E:"hahahaha" G:"terumbukarangnya jugaaa" E:"iya.." G:";-) oia habis sini kita kemana?" E:"somewhere over the rainbow" G:"cool;O" E:"before that, we'll go to the home and take a bath" G:"okeyy". Sip. 
To be continue~ 

Rabu, Februari 27, 2013

Emir Love Story "Tak ada yang Tak Mungkin" Part 28

Sekitar pukul 3 pagi gue kebangun. Kepala gue pusing lagi parah. gue mencoba berdiri tetep aja kaki gue gak bisa digerakin. Gue kembali ke temoat tidur dan liat boneka beruang. Oneka yang besar, putih, halus dan lembut. Belum pernah gue ngeliat boneka se indah ini.. G:"pasti emir :")" gue peluk boneka terindah itu.. Gue mainin muka lucunya boneka itu, seakanakan itu Emir. Gak sengaja neken hidung beruang, tibatiba ada suara yang keluar. "Selamat pagi! Kamu udah bangun ya? Maaf aku belum dateng. Tapi aku nitipin kamu sama pangeran beruang ini.. Dia baik kok! Semoga kamu senengnya temenan sama dia.. ily.." G:"hahahaha.. Emirr kamu baik bangeeett :'D" gue mencoba tidur lagi bareng pangeran baru gue ini.. Skip. Jam 7 gue bangun. G:"huaammmm..." Ada suara keluar dari balik sofa, dia bilang:"Eh kamu udah bangun" G:"hammm..." "Udah jangan kebo.. Ayo mandi, makan, minum obat ayoayo" G:"iya tungguu..." Gue coba berdiri lagi. G:"kayanya kaki aku gak bisa digerakin lagi deh, mir:(" "hah? Emir?" G:"lah kamu siapa?" Degdegdeg. Dia menampakan dirinya... "Gue.." G:"Bastian..?" ".....iya" G:"gue kira emir lo. Syalan-_-" Bastian:"tadi jam 6 kurang si emir nelpon gue, katanya suruh kesini" G:"emirnya ngapain?" Bastian:"dia gak bilang sama gue" G:"hufttt u,u" Bastian:"tapi katanya, dia bakal kesini" G:"jam berapa? Lo taugak?" Bastian:"gak" G:"hahhh emir nih.. Terus lo.. Ngapain disini?!" Bastian:"yee mana gue tau. Gue cuma disuruh emir bangunin lo" G:"trus tadi lo ngapain?!" Bastian:"cuma nonton tv" G:"oh yaudah..". Bastian:"emang gue ngapain coba-_- emang muka gua muka-muka.........." G:"ya gitu.." Bastian:"kmprtlo. Untung lo pacar temen gue. Kalo engga udah gue..." G:"apa? Apa? Takut" Bastian:"yeee nyolot lo" G:"canda bass..." Bastian:"udah lo mandi sana, gue mau kebawah" bastian berjalan ke luar G:"bas canda bas..." Bastian:"yee terserah kata lo dah" G:"ah babas nih ah" dia keluar. Gue ngesot ke kamar mandi. Skip selesai. Gue kembali ngesot ke sofa depan tv. Gak berapa lama gue denger emir dateng. Dia keatas dan buka pintu kamar, E:"weh udah cantik nih" G:"hehehe" E:"itu si bastian kenapa? Mukanya jelek amat" G:"tau tuh.. Eh bukannya bastian itu emang jelek?" Bastian:"EHEMMM.. *benerinjambul*" G:"kenapa bas?" Bastian:"merasa terpanggil.." E:"tadi pagi pasti si bastian jailin kamu ya?" G:"iyagaya..." Bastian:"apaapaan nih! Perusak nama baik-_-" G:"engga ko”baikbaik aja dia" E:"bagus lah.." Bastian:"-_-" E:"oia kaki kamu baik baik aja?" G:"masih gak bisa digerakin mir :(" E:"tapi masih pusing?" G:"masih.. Tapi berkurang pusingnya.." E:"ya mungkin obatnya akan bereaksi kalo kamu minum obatnya teratur :)" emir tatap mata gue G:"iya mir :)" gue tatap emir balik.. Lumayan lama Bastian:"ehem. C'mon let's go to the doctor quickly" G:"oh yeah.. I'm sorry bas" bastian pergi ke bawah duluan. E:"I don't know your language.. Huft" G:"awkward.---." Emir langsung gendong gue kebawah. G:"emiirrrrr!! Slowly!! Aaaaaaaaa" setibanya dibawah, kita langsung naik mobil.  Gue pesen sama mbak gue G:"we will go to the doctor. I'll call you if i has a severe disease" gue tutup pintu mobil yang disupiri oleh bastian.  mbak:"hah? Ngomong apa non?" Pak rusdi:"ngomong bahasa planet ya si non?" Si bastian bilang. Bastian:"artinya.. Kita bakal ke dokter dulu. Nanti kalo dia ada mengidap sakit parah, kita telepon" mbak:"wohhh.. Iyaiya" pak rusdi:"hati-hati ya nak bastian!" Bastian:"siapp" bastian nutup pintu dan kita berangkat ke lokasi dokter itu. Bastian:"heh, tadi lo ngomong pake bahasa apa? Kata pak rusdi pake bahasa planet ye" G:"oiaaa. Gue keterusan._. Yah mereka ngerti gak ya" Bastian:"udah gue translate" E:"bas, ternyata lo.. kamus berjalan..." G:"hahahahahahahahahahahaha" Bastian:"hahaha" E:"hahaha" G:"hahahahahahahahahahahhahahahahahahahahahah" Bastian:"udah elah lo seneng banget" G:"hahahahahahahahaahahahhahahahahha" selama perjalanan gue gak bisa nahan ketawa hahahahaha. Akhirnya kita sampe disuatu rumah yang sepi.. Tapi bersih, indah dan rindang.. G:"ini tempatnya?" E:"menurut kartu nama sih disini" G:"nelpon dulu mir" E:"iya.." Emir ngeluarin hpnya dan dia nelpon. E:"hello? Iya ini dengan dokter Inge ya? Dokternya praktek? Oh.. Kita sudah sampai didepan rumah. Atas nama *namakamu*. Ok baik" emir nutup telepon. G:"apa mir?" E:"katanya tutup. Tapi pas nyebut nama kamu, katanya gapapa masuk aja" Bastian:"beh.. Orang spesial.." G:"udah bas jangan bikin gue ketawa......" E:"hust. Udah ayo masuk" G:"aku gimana?" E:"aku dulu yang masuk. Tunggu ya" emir keluar dan masuk ke rumah itu G:"bas lo nanti disini aja?" Bastian:"iye" G:"yaudah.." Gak berapa lama emir dan suster berjalan ke arah mobil sambil membawa kursi roda. Bastian:"atiati ya.." G:"iya bas" emir dan suster itu membawa gue kesuatu ruangan UGD persis seperti kamar di rumah sakit, tapi ini lebih lengkap dan keliatan baru. Gue disuruh langsung tiduran oleh suster tersebut. Seorang perempuan yang umurnya tak terlalu tua berpakaian jas putih duduk dimeja persis didepan kita. Mereka berbicara sampai dia mendekati gue. Dokter:"nama kamu.. *namakamu* ya?" G:"iya dok" Dokter:"oh.. Kamu masih muda.. Sekali" G:"hehehe" Dokter:"kaki kamu kenapa?" Dia mulai meraba kaki gue. G:"gak bisa digerakin dok dari dua hari yang lalu" Dokter:"sepertinya ini tak terlalu parah?" G:"ini karena apa ya dok?" Dokter:"ada syaraf yang tibatiba kurang peka" G:"hah?kenapa?" Dokter:"ada dua sebab" G:"apasaja dok?" Dokter:"satu, mungkin kamu terjatuh dan kepala kamu terbentur" G:"yang kedua dok?" Dokter:"ada suatu virus yang menyerang otak" G:"hah..." Emir nyela:"seperti kanker dok?"  Dokter:"ya benar!" G:"bisa diselidiki dok?" Dokter:"bisa, tapi biayanya agak tinggi" G:":(" Dokter:"tapi saya yakin.. Kamu hanya terbentur. Karena umur kamu yang masih belia" dokter itu kembali ke mejanya. Dokter:"nanti dia di terapi saja. Dua tiga kali mungkin akan sembuh" E:"dimana dok?" Dokter:"di belakang itu. Emir ngintip dari jendela E:"kolam renang?" Dokter:"sebelahnya" E:"oh.." Dokter:"terapi yang pertama sekarang saja bagaimana?" Emir liat ke arah gue. G:"ya gapapa dok" suster itu neruh gue ke kursi roda dan nganterin gue ke suatu rumah kaca kaya pendopo dipinggir kolamrenang. Dan gue menjalani terapi. 
*EmirPOV* E:"dok, bagaimana dengan biayanya?" Dokter:"tidak usah" E:"loh?" Dokter:"uangnya digunakan untuk beli obat dia saja.. Mungkin obatnya agak mahal" E:"oh.. Baik dok. Terimakasih banyak" Dokter:"iya.. Samasama. Kamu ke sana saja, temani dia" E:":)" emir berjalan ke arah gue. Ternyata emir duduk di pinggir kolam renang. Dia nungguin gue.. Skip gue selesai.. G:"makasih ya sus:)" gue dipinjempin kursi roda dan gue mendekati emir yang lagi nyantai. G:"emir" E:"eh kamu udah?" G:"iya.." E:"terus katanya gimana?" G:"ya.. Katanya harus 1-2 kali lagi" E:"oh.. Tapi udah baikan?" G:"udah.. Bisa digerakin :D" E:"baguslah :) kita ke bastian ya, kasian dia dimobil aja" G:"iya" emir dorong gue dengan kursi roda itu sama susternya. Sampe didepan mobil, ternyata mobilnya dikunci. G:"yah, babas kemana" E:"aelah nianak kabur aja" emir ngeluarin hapenya. Dia nelpon beberapa kali, karena gak diangkat. Akhirnya diangkat juga, emir nyuruh cepet kemobil. Sekitar 5 menit kemudian bastian lari dari arah yang berlawanan sambil teriak Bastian:"maaap yaaaa" E:"udah cepet! Mana kuncinya!" Bastian:"iyaiya" gue masuk dibantuin emir dan suster. Pas dijalan, emir agak marah ke bastian E:"eh bas, lo tadi kemana? Lama banget gila" Bastian:"deket situ ada rumah mantan gue. Jadinya gue manpir bentar" E:"elah mantan doang" Bastian:"mantan mir! Mantan!! Kaya si ty..." Gue pura2 gak denger E:"hust. Diem lo. Brisik-_-" Bastian:"oia, lupa gue" E:"kenapa kita gak diajak kerumah Mantan Lo itu?" Bastian:"ngapain..?" E:"kenalin kita sama Mantan Lo" Bastian:"kenapa? Pengen pdkt?" E:"sorry. Gue gak playboy kaya Lo" Bastian:"eh gue gak playboy ye.. Kata anak2 aja kaya gitu" E:"aslinya sama aja" Bastian:"apaan sih lo mir?! Bikin gue emosi aja" G:"udah dong.." Mereka berdua diem.. G:"kalian udah gede, ngapain coba marahmarah ngeluarin otot?" Bastian:"emirnya dulu yang mulai" E:"apa?" G:"udah mir, dia juga cuma ngunjungin rumah mantannya bentar. Si bastian juga kalo ninggalin mobil harusnya bilang kita dulu" Bastian:"iyaiya.. Maaf ya" E:"iye" gue ngelirik emir ngasih kode G:"mir" E:"iya bas.. Gue maafin" G:":)" skip sampe. Emir bantuin gue turun ke kursi roda. Tiba2 emir gendong gue pas didepan tangga. G:"eh mau ngapain mir?!" Emir firm hanya natap gue aja. G:"emiiiirrrr turunin guee.. Jangan modus dehhh..-_-" dan.. Akhirnya gue diturunin di tempat tidur. E:"siapa yang mau modus juga.. Aku cuma mau bantu kamu.." G:"oh.. Lagian kamunya main angkat aja .-." E:"maaf ya" G:"iya gapapa.. Oia makasih ya buat pangerannya! Keren banget! :D" E:"iya sama2:) aku harap dia bisa jagain kamu selagi aku gak ada :)" G:"iya:D" emir keluar sementara gue nonton tv. Skip. Gue ketiduran sampe jam 8. G:"huahhhh.. Udah malem bangeett-_- mirrrr? Basssss?*krik* emirrrr? Babasss? *krik* hah. Pasti mereka udah balik-_-" gue jalan ke toilet dilanjutkan ke teras kamar sambil membawa pangeran beruang yang dikasih emir. G:"huuuhhh.. Dingiinnn.. Seandainya ada Emir pasti seru:|" gue pencet idung beruang. "Hai! Selamat malam! Tidur kamu nenyak banget tadi, pasti mimpi indah ya? Haha.. Maaf aku menghilang. Tapi aku akan selalu ada disamping kamu sampai kapanpun juga! Ily" G:"emir gombal..tapi buktinya dia gak ada disini-_-" tiba2 ada suara gitar. Makin lama makin keras G:"gitar?" Gue liat ke kiri.. Gak ada orang. Gue liat kekanan.. Kosong. Gue liat ke depan.. Rumah tetangga. Gue liat kebelakang.. Tembok. Gue liat ke bawah.. Lantai. Gue liat keatas.. Atap G:"terus siapa?" Makinlama gitar itu membuat gue merinding. Perasaan gue bilang ada bayangan disamping gue. Gak keliatan sama sekali karena gelap. Tapi gue gak berani liat. Dan ini udah bikin keringetan. G:"ka..ka..mu..si..si..a..a..pa.." Dia gak jawab. Gue dengerin petikan lagunya, kayanya gue tau.. G:"ja..ja..jawab..!" Kayanya lagunya jason maraz. G:"ka..ka..lo..eng..gak..a..a..aku..te..ri..ak..loh.." Gue udh peluk erat2 boneka beruang. Dan akhirnya gue tau dia melantunkan lagu I'm Yours. "Maksud kamu apa?" Kata dia. Suara yang tak asing ditelinga. Gue mencoba liat wajahnya. G:"mir?" "Mir?"  G:"bu..kan..e..e..mir..?" Gue langsung tutup muka. G:"ka..mu..si..apa..sih? A..ku..ga..ma..u..da..pet..ma..sa..lah...." "Udah jangan takut, biasa aja kali" gue merasa disebelah gue ada orang.. Gue gak bersuara saking takutnya. Lelaki itu masih melantunkan petikkan gitarnya. Sampai lagu I'm Yours itu habis. Gue rasa, laki2 ini baik dan deket banget sama gue. Perlahan gue buka mata dan melihat dia. Dengan suara lantang dia tanya:"Takut?" Gue langsung mukulin dia pake tangan gue yang megang boneka sekuat tenaga G:"PAAKKK RUSDIII!! MBAAAKK!! TOLOOONGGG!!"  "Huussttt" lelaki itu menangkap tangan gue. "Udah jangan takut" dia mulai taruh telunjuknya di bibir gue. G:"Emir?! :O" E:"iya.." G:"kok.. Kamu.." E:"maaf aku nakutin kamu" G:"kok bisa disini?" E:"..." G:"mir, maaf ya. Sakit ya?" E:"nggak" G:"mir maaf.. Aku gak tau.." E:"iya gpp" G:"ah mirrr:(" E:"iya.." G:"kamu misterius.." E:":|" G:"lagian sih kamu mah.." E:"udah.. Maaf ya. Maaf aku cuma mau ngejutin kamu" G:"tapi aku takut:(" E:"udahlah. Lainkali aku bakal coba lagi! Semoga berhasil.." G:".-." E:"udah kamu mau request lagu apa?" G:"boleh?" E:"bolehlah. Apasih yang gak boleh buat kamu?" Dengan wajah malumalu tapi mau. Gue menjawab "summer love" dia mulai memetikkan gitarnya lagi. Tanpa sadar bibir gue mengucap dan suara gue keluar beriringan dengan petikan gitarnya. 
"Cause you were mine for the summer..
Now we know its nearly over..
Feels like snow in September..
But I always will remember..
You were my summer love..
You always will be my summer love.."
Lagu kedua pun habis.. Meskipun waktu terus berjalan, hari semakin malam, dan hawa semain dingin. Tapi gue rasa kita semakin hangat. Love Story. Judul lagu yang dipopulerkan Taylor Swift. Sepertinya cocok dinyanyikan pada waktu sama dia :3 Endingnya itu cetarcetar membahana gitu.. Gitar mulai terdengar dengan indah..
G:"Romeo take me somewhere we can be alone..
Ill be waiting, all there's left to do is run..
You'll be the prince and ill be the princess..
Its a love story baby just say yes!" 
Sampai pada ending.. Gue ngelirik Emir #kode. Merebahkan kepala di pundak Emir. Dia memperlahan gitarnya dan mulai bernyanyi buat gue
"Marry.. me juliet...
You'll never.. have.. to.. be.. alone..
I love you.. and that's all.. I really know..
I talked to your dad.. 
Go pick out a white dress..
Its a love story.. baby.. just say? yes!" 
G:"yes.." 
Emir merangkul gue dengan rasa sayang seperti sayang romeo kepada juliet.. #eeaaa :'3 sampai pukul 11 gue sama emir masih nyanyinyanyi. Mbak:"noonn.. Disuruh tidur sama nyonya" G:"hah? Apa mbak?" Mbak:"disuruh tidur sama nyonya nooon" G:"kok mama tauu?" Mbak:"nyonya nelepon" *hening* emir ngelirik gue.. E:"udah tidur.. Ini juga udah malem banget" G:"lanjut:(" E:"aku gak mau kamu tambah sakit" G:"ahh:(" E:"aku tungguin sampai kamu tidur" G:"yasudah:(" E:"jangan cembetut gitu kenapa. Nanti gak bisa jadi sleeping beauty loh" G:"hah? Nanti aku tidur melulu dong :(" E:"kan nanti dibangunin sama pangeran" G:"dibangunin?" Gue belom nyambung. E:"itu loh.. Putri yang tidur terus. Terus kalo dibangunin harus di.." G:"ohhh.. Iyaiya udah cukup tau.."  E:"nahh.. Nantikan pangerannya dateng" G:"pangeran? Pangeran beruang maksud kamu?" E:"yang ngasih juga boleh" G:"..apasih mir.."  gue berjalan ke tempat tidur. E:"ehh canda.." Udah pake selimut. Bersiap tidur. Gue rasa ada yg janggal. Gue berbisik:"tumben, emir gak ikut masuk :S" tapi gak berapa lama kemudian emir mainin gitarnya lagi dengan lagu slow. Gue dengerin..G:"ninabobo? :O" E:"tidurloh, bukan dengerin" G:"iya mir:|" sampai gue terlelap, emir masih ada diteras kamar.

Senin, Februari 25, 2013

Emir Love Story "Tak ada yang Tak Mungkin" Part 27

Sekitar jam 2 pagi gue kebangun garagara gue kepala gue pusing banget dan gak bisa tidur lagi.  G:"huaahh pusing bangeettt..." Berdiri pun gue gak bisa. Gue nelpon embak suruh kekamar gue. Gak berapalama dia dateng. Dia megang kepala gue "non kamu panas banget" G:"ah ambil kompres kek mbak atau apa gitu" mbak gue ngambil kompres air anget. Sampe jam 4 panas gue gak turunturun. Mbak:"non emang abis ngapain sih non? Biasanya juga gak gini" G:"gak tau mbak" Mbak:"telpon nyonya gak non?" G:"gakusah, nanti malah ganggu mama" jam 5. Mulai reda.. mbak:"udah ya non.. Mbak mau masak sarapan dulu" G:"ya. Makasih mbak". Tapi tetep aja kepala gue masih pusing. G:"Щ(º̩̩̀Дº̩̩́Щ) pusseenngggg. Gue butuh.. Emirrr!!" Gue liat jam. G:"kayanya emir masih ngebo .--. Aaaaaaaaaemir plis kesini.. :(((" skip jam 6. Keadaan diluar rumah masih sepi. Tapi ada suara motor gede yang berenti didepan rumah. Gue denger suara mbak gue bilang "ada diatas.." Suara kaki pun semakin kencang terdengar. "Kreek" suara pintu terbuka.. Dia membuka jendela dan membiarkan udara segar masuk ke kamar. "Kamu kenapa?" Dengan suara lembut gue nanya G:"emir..?" E:"iya.." G:"kepalaku pusing banget dari tadi malem" emir duduk disambing badan gue E:"kamu panas" G:"ini udah mendingan dari pada tadi malem mir" E:"hmm.." G:"kamu kok disini?" E:"perasaan aku gak enak, mimpi aku buruk dan itu semua tentang kamu. Jadi aku kesini" G:"makasih ya mir" gue naikin selimut. Emir ngompres gue. E:"kamu udah makan?" G:"belum" E:"aku ambil dulu ya" emir kebawah. Gak berapa lama emir keatas. E:"buka mulut ya.. Aku suapin" G:"aku makan sendiri aja" E:"jangan.." Gue buka mulut. Baru beberapa suap gue bilang "udah mir.. Gak enak. Gak ada rasanya :'/" E:"yaudah nanti lagi :)" hening.. G:"mir perasaan gue gak enak" E:"kenapa?" G:"gak tau juga" E:"apa bastian sama radit suruh kesini?" G:"gak usah mir, kasian. Nanti aku ngerepotin mereka" E:"gpplah" G:"gak usah :)" jam dinding menunjukan pukul 11. Gue mau mandi, si emir ketiduran disofa. Gue coba berdiri. Berjalan ke kamar mandi. Setelah mandi gue pengen duduk disebelah emir. Tapi entah kenapa, tibatiba kaki gue kaya gak punya tulang. Jadinya. Gue jatuh G:"aduh.." Emir kebangun. E:"ada apa? Kamu dimana?" Emir mendekati gue. Dia segera ngangkat gue ke tempat tidur. E:"kamu kenapa?" G:"tadi aku habis mandi.. Terus tibatiba kaki aku lemes banget" E:"mungkin kamu kecapean.. Aku kebawah dulu ya" emir kebawah. Sementara gue masih diatas. G:"Tuhan... Aku kenapa? Aku sakit? Atau apa? Aku gak mau ngerepotin orangorang yang aku cintai. Mereka udah berbuat banyak untuk aku.. Aku mohon biarkan aku menikmati hidup ini dengan kebahagiaan ya Tuhan. Bersama kedua orang tua ku, dan semua temantemanku. Aku masih ingin bersama mereka ya Tuhan :'(" Emir dateng.. Dengan suara pelan dia nanya  E:"kamu ngomong apa?" G:"gpp mir" E:"nanti bakal ada dokter yang kesini, jadi kamu tidur aja dulu" G:"dokter?" E:"iya tadi aku telepon dokter" G:"yasudah lah mir" kita nunggu..nunggu... Dan nunggu. Akhirnya dokter itu tiba. Emir disebelah gue, mbak dan pak rusdi ada dikamar gue juga. Gue liat dokter itu memeriksa gue. Dia memberi resep obat, sampai emir bilang E:"dok, kaki dia kenapa tidak bisa bergerak sama sekali ya dok?" Dokter itu bingung "maksud anda?" E:"dia tidak bisa berjalan" "coba saya periksa" gak berapa lama dia bilang "maaf, saya bukan dokter spesialis" G:":(" "tapi saya mempunyai saudara dokter spesialis" dokter ini ngeluarin kartu nama dia. "Nanti kalian telepon ini saja, dia dokter yang sudah ahli" E:"ok makasih dok" "ya samasama" dokter itu keluar bersama mbak dan pak rusdi dari kamar gue. G:"aaa aku sakit apa mir?!" Emir coba baca tulisan resep itu E:"gak kebaca-_- emang ya tulisan dokter itu seni banget. Coba orang beriman aja yang bisa baca" G:"hahaha.. Berarti kamuu..." E:"..." Gak berapa lama emir ijin keluar mau beli obat. Gue sendiri lagi... Merenungi penyakit apa yang ada didiri gue? G:"Kayanya gue gak punya salah.. Ya kalo diitungitung sih lumayan.. Banyak:'( kalo gue kedokter siapa yang bayar? :(" embak gue keatas ngasih minum. G:"mbak, mama tau aku sakit kaya gini?" Mbak:"wah mbak gak tau non" G:"terus nanti yang bayar ke dokter siapa?" Mbak:"hmm.. Oia, uang yang dikasih nyonya kayanya masih sisa non" G:"yaudah pake itu ya mbak, jangan sampe emir yang bayarin. Aku gak mau ngerepotin dia.." Mbak:"baik non" mbak gue pergi.. 
Skip sore. Emir dateng.
E:"maaf ya aku baru dateng, tadi aku disuruh kerumah dulu" G:"iya gpp" E:"ini obatnya, suruh abisin semua katanya" G:"ya.." E:"kamu udah makan?" G:"udah tadi" E:"yaudah langsung minum aja ya" G:"iya.." Emir bantu gue minum obat. Sampai selesai.  Gue tidur. skip malem. *EmirPOV* Emir deketin gue, dia ngelus rambut gue E:"aku pulang dulu ya.. Udah malem. Aku janji, besok aku bakal dateng pagi sebelum kamu bangun. Semoga kamu cepet sembuh ya.. Biar bisa main basket lagi sama aku :' aku akan tetap disebelahkamu sampai kapanpun. Malam ini kamu ditemenin sama ini ya.. *emir ngeluarin boneka beruang putih* pangeran beruang.. Tolong jaga *namakamu* ya.. Udah ya.. Dah.. See you tomorrow my beautiful baby. Night" emir nyium kening gue. Dia keluar kamar dan gue kembali tidur.