Kamis, Juli 03, 2014

Emir Love Story: "Stay, He Said" - PART 1

"Fall in love is easy. But staying in love? That's the challenge."



Kata orang masa-masa SMA itu adalah masa paling menyenangkan seumur hidup. Tapi itu kata orang, bisa subjektif kan? Menurutku masa SMA itu masa dimana kita mencari jati diri setiap individu dan mengetahui hal-hal kecil yang dulu kita anggap tak penting. Seperti perbedaan  RAS dan Agama. Sekarang aku merasa disakiti oleh dua hal tersebut. Dulu sekali, mungkin saat aku duduk disekolah dasar teman-temanku selalu mengolok-olokan aku dengan kata cina lah, sipit lah dan banyak lagi. Tapi menurutku itu tak masalah. Memang kenyataannya seperti itu. Tidak bisa diubah bukan? 

Seorang anak perempuan kecil yang manis duduk dibangku paling depan. Ini adalah hari pertamanya masuk ke sekolah dasar di Indonesia. Satu persatu anak masuk dan duduk dibagian belakang kelas. 

"Eh, ada anak sipit baru tuh!" Kata seorang anak kecil yang menunjuk ke arah anak perempuan manis tersebut. Semua mata anak-anak lain yang berada dikelas menuju anak perempuan itu.

Ia menoleh kesumber suara, anak itu hanya diam. Tiba-tiba seorang anak laki-laki bermata sipit yang sama sepertinya duduk dikursi kosong disebelah anak perempuan itu. 

"Hallo! Kamu anak baru ya?" Tanya anak laki-laki itu. 

Anak perempuan itu terlihat takut.

"Kamu jangan takut.." Katanya, Ia mengangkat tangannya dan tersenyum manis membuat dua lesung pipi yang indah muncul di pipinya. "Namaku Edgar, nama kamu siapa?"

Anak perempuan ini membalas  dengan senyum canggung. "Catharina"

"Catharina? Aku panggil kamu Cat boleh?"

Anak perempuan itu mengangguk. Semenjak saat itu, kedua anak berpakaian merah putih tersebut selalu bermain bersama. Semua selalu bersama, dari pagi hingga siang hari dan berakhir pada bell pulang sekolah. Semua terasa begitu cepat hingga suatu hari disaat kelulusan sekolah dasar tersebut, Catharina yang tumbuh semakin cantik harus pindah sekolah ke Chicago, USA. Dan hari-hari selanjutnya dilalui gadis itu tanpa sosok Edgar yang selalu mengajari indahnya hidup jika kita memiliki teman. 

Tapi saat ini.. Semua berbeda. RAS dan agama tidak bisa menyatukan apa yang diinginkan manusia. Seakarang aku bertanya-tanya, mengapa didunia ini harus ada perbedaan ras, agama dan semua hal yang membedakan kita? Kenapa Tuhan tidak membuat satu RAS dan satu agama saja? Supaya aku dan dia bisa bersama. Tidak seperti ini.. 



Jumat, Juni 27, 2014

Take Me Home - Two - ELS: Little Things



"Your hand fits in mine
Like it's made just for me
But bear this in mind
It was meant to be.."

 

Sore ini mentari tak lagi memancarkan sinarnya. Awan mendung menyelimuti atmosfer di kota Bandung. Aku duduk sendirian disebuah taman didekat parkir mobil, melihat mahasiswa atau pun mahasiswi berlarian menuju kendaraan masing-masing dan ingin cepat pulang kerumah, supaya mereka tak terkena imbas dari awan hitam ini, hujan. 

Oh ya, aku suka hujan, memberi asupan nutrisi untuk pohon-pohon, tetapi bukan untuk kali ini. Aku resah dengan hujan ini. Sudah hampir dua jam aku duduk terdiam disini menunggu sebuah mobil Porsche berwarna putih menghampiriku dan tiba-tiba seseorang keluar dari mobil itu untuk membukakan pintunya untukku. Tetapi kemana dia?

"Nataline?" dia mendekat kearahku. "Ternyata lo kuliah disini juga?"

Seorang laki-laki dengan kaos merah keluaran bloods dan celana jeans panjang serta tas selempang yang ia gantungkan dibahunya yang bidang menghampiriku. 

Minggu, Juni 22, 2014

"How Important You Are" - Fan Fiction Emir Mahira


"A Person who anoys You is often the one who loves You so much, but fails to express it"



TEEEEEET... TEEEEEET... TEEEEET…

Bunyi nyaring dari bell sekolah terdengar di telinga seluruh siswa. Bertanda jam pelajaran pada suatu sekolah menengah tingkat atas sudah usai. Dengan wajah yang gembira, siswa-siswi berlarian keluar dari kelas mereka. Semua siswa gembira, kecuali dia. Seorang gadis berambut indah keluar dari kelasnya. Meratapi lantai putih yang ada dibawahnya. Dengan tas yang dibawanya ia melangkahkan kaki perlahan melewati lorong yang sepi. Tak ada orang satupun didekatnya. Tak ada suara selain ketukan sepatunya. Sampai ia berada pada penghujung lorong dan menilahat dari kejauhan, teman-temannya berseragam kurang sopan sedang berada di pintu gerbang sekolah. Ia pun memutuskan untuk berbalik arah dan kembali ke kelasnya. Tetapi langkahnya berhenti ketika ia melihat seorang siluet anak-laki persis didepannya. Laki-laki itu langsung menarik dan melempar tas dari rangkulan si gadis ini.


Minggu, April 20, 2014

Take Me Home - ONE - ELS: Change My Mind

But baby if you say you want me to stay, I’ll change my mind'Cause I don’t wanna know I’m walking awayIf you’ll be mine


Dinginnya udara pagi ini memaksaku untuk bangun lebih awal dari yang lain. Jarum pendek di dinding menunjukkan pukul 4 pagi. Waktu yang masih pagi untuk beraktivitas ditempat seperti ini. Tempat yang terdapat dipinggir pantai.

Aku menyebakkan selimut dan berdiri mengambil jaketku yang tergantung di tangan kursi. Berlangkah kecil menuju jendela yang menghadap ke pantai secara langsung, melihat langit yang berwarna gelap. Sunrice! Batinku berkata, bahwa sebentar lagi akan muncul matahari dari ufuk timur.

Aku pun keluar dari kamar dan bertemu sebuah lorong menuju lift menuju lantai dasar. Suasana tak kalah sepi. Tak ada yang lalu lalang dilorong ini seorang pun. Aku memencet tombol tanda panah kebawah. Menunggu pintu lift ini terbuka adalah salah satu hal yang membuatku bosan. Aku memutuskan untuk mengeluarkan noteku dan memainkannya.

Ting..

Pintu Lift mulai terbuka sedikit demi sedikit. Aku menemukan seseorang dengan kaos dan jeans pendek, yang selama tiga tahun ini telah menjadi teman, oh bukan. Sahabat sejatiku di SMA.

Minggu, Maret 09, 2014

Emir Love Story: "Memories" PART 17 END


Place de la Concorde, 16:55

Kalau di Indonesia, tempat ini sering disebut sebagai alun-alun. Place de la Concorde ini alun-alun terbesar di kota Paris, dimana setiap orang yang duduk dibangku taman ini akan merasakan ketenangan dan kenyamanan. 

Hal itu yang dirasakan olehku, duduk berdua disebuah bangku taman dengan Emir. Menikmati indahnya kota Paris pada sore hari menjelang matahari terbenam. 

Aku ingat, aku masih menyimpan kotak kecil yang Emir tinggalkan di rumahku. Aku mengeluarkannya dari tas, dan memberikannya kepada Emir.

“Apa in--..” Kata-kata Emir tercekat saat ia mengetahui isi dari kotak ini adalah sebuah cincin darinya.

“Kamu nemuin kotak ini?” Tanyanya, aku membalas dengan anggukkan. 

“Nemu dimana?”

“Diantara kotak coklat yang lain. Ini kotak coklat yang paling kecil..” kataku

“Kamu tau ini dari siapa?” Tanya Emir lagi.

“Kalo aku gak tau ini dari siapa, aku gak akan terbang jauh-jauh Jakarta-Paris hanya bermodalkan Cinta. Cuma buat nyusul kamu, Emir Mahira Salim..” Jawabku, sedikit menyobongkan diri.

Emir terpana melihat perjuanganku.

“Jadi.. Kamu..” Dia tersenyum manis.