Jangan harap hidupku menjadi lebih baik semenjak bertemu dengannya. Tidur pagi, bangun kesiangan, makan sehari sekali, mandi itu pun kalau sempat. Mungkin tubuhku akan hancur beberapa saat lagi.
Sudah dua hari aku melakukan pekerjaan ekstra ini dan belum selesai seutuhnya. Hidupku hanya berkutat didepan laptop. Dan.. Ohya. Aku lupa menghubungi Raskal.
Aku mengambil iphoneku didalam tas dan mencoba mengirim pesan.
To: Raskal
Hey boss, maaf akhir-akhir ini aku harus mengerjakan tugas. Bukan hotel sajaa kau tau, haru harus membuat rumah juga untuk
Tit//iphoneku mati dalam sekejap.
Untuk...
Kalau aku memberitahu Raskal tentang proyek rumah ini tidak menutup kemungkinan untuk dia menyuruhku melepas proyek hotel ini. Bukan masalah uang yang aku pikirkan, tapi bagaimana dengan anggota timku yang lain.
"Itu panggilan untuk pesawat kita!" Ujar Andrew yang membuat aku terkejut.
"Oh, siapkan tiketnya," Ucapku.
"Ini," Balas Dinda dan kami langaung mengantri masuk menuju pesawat menuju Lombok ini. Dan saat ini lah semuanya akan terulang kembali.
Teman-temanku sudah duduk dikursinya masing-masing, tetapi aku belum bisa menemukannya. Seorang pramugri dengan jubah biru dengan motif batik dibeberapa bagian menghampiriku.
"Maaf, ada yang bisa dibantu?"
Aku memberikan tiketnya, "Saya kesusahan mencari tempat duduk,"
Pramugari itu mengangguk dan tersenyum kearahku, "Mari saya antar,"
Ia berjalan dikabin pesawat menjauh dari tempat duduk teman-temanku. Aku rasa aku memasuki buisness class? Siapa yang memesan tiket ini huh?
"Silahkan,"
Aku menatap pramugari itu dengan penuh tanda tanya sementara ia sudah pergi dari hadapanku. Untuk satu tiket economi class saja aku rasa sudah sangat mahal mengingat ini adalah tujuan lombok. Bagaimana dengan tempat duduk yang aku akan duduki ini?
Ah. Sudahlah.
Akhirnya aku memutuskan untuk duduk dibagian dekat jendela karena barisan ini masih kosong. Yasudah lah. Iphone mati, tidak ada teman ngobrol, dan aku merasa tidak sepantasnya aku berada disini. Hah. Baru saja berangkat sudah seperti ini bagaimana nanti? Tinggal berapa hari saja di Lombok entah sampai kapan. Sampai semua proyek itu selesai? Sangat mungkin. Dan mungkin aku akan intensitasku bertemu dengannya akan lebih tinghi dibanding bertemu dengan Raskal.
Ha.. Raskal.
Aku memandangi jari manisku yang hampa ini.
"Apa yang kau pikirkan nona?"
Suara bass yang sepertinya aku pernah mendengar?