Rabu, Agustus 17, 2016

00:10 // Kita Cari Velvet, Sekarang!


Bell pulang sekolah sudah berbunyi tiga puluh menit yang lalu. Tapi aku belum melihat Velvet sejak tadi. Barisan mobil pun berderet mengantri untuk keluar dari lapangan parkir ini. Sampai akhirnya hanya tersisa mobil yang ku kendarai, Chevrolet Camaro milik Dylan dan beberapa mobil lain yang dapat dihitung dengan jari. 

Aku mengeluarkan iphone yang dari tadi pagi belum ku sentuh, karena dalam waktu kegiatan belajar mengajar siswa-siswi dilarang untuk mengaktifkannya. Meskipun beberapa saat aku sering melanggar peraturan tersebut. 

Shit! Gimana gue mau nelpon kalo nomer aja gak punya! 


wtf. 

iphone hitam tersebut lemparkan dan mendarat mulus di jok pengemudi sementara tubuhku bersandar pada pintu. 

Kemana sih ni anjing satu. 

Set dah, bisa sampe besok pagi dah gue disini! 

Hingga akhirnya hanya tersisa mobil ku dan Camaron merah maroon di lapangan parkir ini. Dan, hm? 

Apa si Velvet-- Celeng? 

00:09 // Apa Alasannya Sam?

“AWAS BOLA!”

Hah?

DUG

 “aAww” Tanganku reflek mengelus kepala ku yang mulai cenat cenut, akibat lemparan bola dari.

“Gue bilang juga awas,” Summer menghampiriku yang duduk dipinggir lapangan basket.

“Telat.”

“Ya lagian, ga ikut main,”

Jangan tanyakan mengapa aku bisa berada di lapangan ini. Seharusnya aku sudah berada dirumah berleha-leha, bermain handphone dan apapun. Bukan terjebak ditempat ini. Meskipun Summer percaya bahwa aku tidak bisa bermain basket hari ini, Ia tetap menarikku untuk duduk menonton latihan basket hingga selesai. Itu berarti aku harus terjebak hingga pukul enam sore di sekolah. Dua jam dari . . sekarang.

“Vet, beliin minum gih!” Kata Summer dengan santainya.

“Ogah, emang gue babu lu,”

“Ya elah bantu temen sendiri,” Summer memberikan selembar uang sepuluh ribu didepan wajahku.

Ish. “Beli apa ini?”

“Es degan yang sebrang sekolah sama batagor,”

“Buset jauh amat!”

Summer menggoyangkan tangannya mem buat uang itu terjatuh dipanguanku. Jarak lapangan basket putri dan gerbang sekolah sangatlah jauh. Duluu sekali, sekolah hanya memiliki satu lapangan basket yang berada di halaman depan, namun baru tahun ajaran ini sekolah resmi membuka lapangan basket baru yang berada dibelakang sekolah untuk para siswi yang mengikuti ekstra bola basket.

Aku bediri dan melangkah melewati tengah lapangan basket, sebelum seseorang meneriaku namaku yang bersumber dari belakang.”VET!” Aku menoleh.

“Titip kelapa dong!”

“Gue juga”

“Iya gue juga”

“Satu lagi,”

“Gue batagor,”

“Gue kelapa,”

“Esnya dikit aja,”

“Gue juga,”

Taek. Gue bawa warungnya ae lah.

Jumat, Agustus 05, 2016

00:08 // Pretest


Si Juke telah memasuki lapangan parkir sekolah yang berada tepat di sebelah gedung sekolah.  Emir sibuk mencari slot parkir kosong, sementara aku sibuk mengunyah nasi goreng sambil memasang sepatu lalu menyisir rambut dengan jemari sebagai sisir . Saat mesin Juke telah padam, tas ransel sudah berada dipangkuanku dan bersiap untuk keluar.

“Gue keluar duluan,” Kataku masih sibuk bercermin memastikan wajahku cukup layak untuk di lihat warga sekolah. “Gue gak mau jadi omongan sekolah kalo gue berangkat bareng sama lo.”

Gerakan tangan Emir yang sedang membuat dasi  berhenti mendengar perkataanku. “tapi orang-orang bakal tau kalo gue sama lo tinggal satu rumah”

Kini aku yang berhenti mengaca dan memusatkan pandanganku pada abang nyolot satu ini. “Noway! Gak ada yang boleh tau!”

“Dylan? Falen?”

“Ya kecuali mereka,”

“Gue gak janji,”

Aku sudah sangat geram berdebat dengan Emir dan segala sanggahannya yang gak masuk akal.  “Apa sih mau lo”

Dia hanya mengangkat bahu sebagai jawaban atas pertanyaanku.”Pokoknya, di area sekolah, gue gak kenal lo, lo jangan pernah ganggu hidup gue.”  Aku membuka  pintu dan membanting dengan cukup keras pintu. Maafkeun aku telah merusak mobil mu, Tante Pal.

Memasuki gedung sekolah dan langung berjalan menuju kelas ku yang berada dilantai teratas, terpojok, dan terpencil itu. Hampir semua anak sudah berada duduk ditempat duduk seperti biasa, ya kecuali tempat ku yang berada dideretan dekat tembok. Summer sudah duduk dibangkunya, depan ku. Sementara aku tak tahu dimana keberadaan Naomi, yang jelas tas cantik nya sudah berada di meja sebelahku.

“Lo kemana aja njir? Gak pernah muncul di group,” Kata Summer setlah ia berhasil membalikan badannya ke belakang.

“Hm,” “Sibux gue,”

“Aek serah lo.”

Aku kembali meneguk susu kedelai yang tersisa setengah botol saat Summer berbalik badan menghadapku.

“Harus ya minum susu tiap pagi?” Katanya dengan pandangan serius tapi juga mengejek.

“Yaela, kaya ga kenal gue aja,”


00:07 // Pagi yang Melelahkan

Dengan langkah kecil sambil celinga celinguk. Untuk pertama kalinya aku memasuki kamar laki-laki! Ya laki-laki selain papa. Karena aku hanya anak tunggal dan tidak pernah menginap dirumah laki-laki.

Dalam bayanganku, kamar seorang anak laki-laki seumuran ku, pasti akan berantakan. Barang berserakan dilantai. Baju kotor disudut kamar, serpihan makanan diatas tempat tidur. Piring kotor tertumpuk diatas meja belajar. Kabel kabel stik ps yang menjulur ke semua lantai. Seperti kamar Dylan tadi.

Uh. Dylan! Dia laki-laki yang sangat baik dan dia sangat mengerti apa yang perempuan butuhkan. Yap. He treat me like . . Uh. I think i have crush--

"udah masuk!" Arg. And im pretty sure i hate this guy for a millions years. "Lo ngapain kek jangan ganggu gue. Main laptop. Baca majalah. gadgetan. Apa kek. Gue mau ti-dur!"


"Tapi laptop gue dirumah," Aku langsung angkat bicara saat mengingat macbook ku masih berada di laci meja belajarku semenjak aku jarang menggunakannya.

"ambil punya gue."

Senin, Agustus 01, 2016

00:06 // Ew. Are u jealous Mir?

Kenapa gue . . .

Belum ada 24 jam Dylan dan Velvet saling kenal dan mereka sudah seperti pasangan sehidup semati seperti itu?

Ew. Are u jealous Mir? WTF!
Lo jealous sama anak bawel kaya dia?

Setelah selesai menonton beberapa film di rumah Dylan. Aku mengendarai mobil Uncle Brian menuju rumah baru ku, seperti biasa. Satu hal yang tidak biasa. Aku membawa seorang gadis dalam mobil ini. Ia terlelap, menyenderkan kepalanya pada pintu mobil dengan wajah yang terlihat sangat lelah.

Sekitar pukul sebelas mobil ini sudah berhenti di rumah nya. Rumah sudah sangat sepi. Sepertinya Uncle Brian belum kembali. Aku kembali memerhatikan gadis yang masih saja terlelap disampingku.

"Heh." Aku memukul kecil lengannya. "Kebo! Bangun."

Velvet tak bergerak sedikit pun.

00:05 // Pro Evolution Soccer

toktok.

hm.

toktok.

hmm.

"eh, ngapain di--"

 hoam.
duh pegel banget ni badan.

Aku mencoba memulai merasakan dunia sekitar. Ohya. Tidur di jok pengemudi adalah salah satu hal yang buruk. Kaki disilangkan di atas jok membuat kesemutan. Kepala yang bersandar distir, tangan yang terjulur hingga dasboard dan rambut yang pasti menjulur acak-acakan. Dan he?! Siapa orang yang mengintip di kaca sebelahku?!

"Brisikk. ." "Klakson. . " Dia bertingkah menutup telinga dan berputar-putar tak jelas.

Aku mengangkat kepala yang sangat berat dan menyenderkannya di jok. Tidur yang sangat lama. Sangat. . Mungkin. Setidaknya aku bisa memastikan pria-pria ini tak pergi tidak akan pernah muncul keluar dari rumah ini, kecuali seorang pria yang masih mengetokngetok kaca mobil dengan brisiknya. Menambah beban kepalaku.

Dengan setengah kesadaran, aku membuka pintu dan turun dari mobil yang ku perkirakan masih dalam keadaan mesin menyala. Maafkan Velvet, Om Brian. Salahkan ponakanmu jika mobil ini rusak.

"Lo siapa? Ngapain tidur di dalem? Kenapa bisa di mobil Emir? Kenapa gak masuk? Lo tau gak sih klaksonnya bunyi?! Untuk yang dateng gue, bukan anak kampung sebelah. Brisik tau gak? Eh. Bukannya lo yang nabrak Emir waktu--"

Bawel lah abang, cipok nih.


00:04 // Satpam Selamat Datang

Sunday morning, rain is falling

Suara merdu abang adam sangat menghangatkan minggu pagi ini yang diguyur hujan ringan.

 Steal some covers, share some skin
 Clouds are shrouding us in moments unforgettable
 You twist to fit the mold that I am in

 But things just get so crazy, living life gets hard to do
 And I would gladly hit the road, get up and go if I knew

 That someday it would lead me back to you
 That someday it would lead me back to youuu

That may be all I need
 In darkness, she is all I see
 Come and rest your bones with me
 Driving slow on Sunday morning
 And I never want to leave

 Duh.

Gak kuku adek, bang.

"Velvet, garpunya buat nyuap spaghetti ke mulut, bukan cuma buat ngadukngaduk,"

Yaela. Abang gojek juga tau tan. Abang Adam juga tau.

"Gak enak spaghettinya?"

Ett. Ini spaghetti udah kaya buatan masterchef dibilang ga enak. "Enggaa! Lagi dengerin Abang Adam nyanyi,"

"Abang Adam siapa?" Tanya Tante Pal yang kini menatapku aneh.

"Dia emang punya dunia sendiri, biarin aja."

Eh. Abang goclean baru bangun.

Ia turun dari tangga dan berjalan menuju meja makan dimana aku dan Tante Pal memakan spaghetti kita masing-masing. Ralat, hanya Tante Pal yang memakannya. Sementara aku hanya mengadukaduknya karna saking terpesona mendengar suara surga yang turun dari speaker di ruang makan ini. Abang goclean menatapku sinis sambil mengangat sedikit ujung bibirnya saat melewatiku dan duduk disebelahku. Seketika wangi coconut semerbak disetiap sudut udara dibumi ini.

Dia sudah berganti pakaian dengan kaos abu-abu dan boxer hijau bergambar melon.

Seger bang.

Pen bet digigit dah melonnya.

00:03 // Tragedi Berdarah

"Huaaaah!"

Aku menggerakan badan dan membenarkan posisi menjadi bersandar di kepala tempat tidur yang suangaat nyaman ini. Sial. Jam berapa ini?! 

Tidak ada jam didinding, tak ada jam dimana pun! Kenapa dunia ku selalu buta akan jam. Aku merogoh tas ransel untuk mengambil iphone. And. Its dead.

Aku memberanikan diri untuk turun dari tempat tidur, membuka pintu kamar dan hei. Ada empat pintu yang sama seperti kamarku dan Tante Pal belum menjelaskannya kemarin. Sepertinya. Aku kembali mengumpulkan keberanian berjalan menyusuri tangga turun. Gelap. Hanya terdapat beberapa lampu di sudut ruangan ini. Tak ada tanda-tanda kehidupan dilantai ini. Tapi sepertinya aku mendengar sesuatu.

Langkahku terus berjalan mendekati sumber suara dan akhirnya aku menemukan pusat suara dan cahaya dari televisi yang masih menyala , sendiri. Tak ada orang di sofa. Beberapa bantal terletak dilantai. Sebuah selimut yang tergulung asal diatas sofa. Dan film yang terus berputar. Sekarang aku telah duduk manis ditengah sofa yang berhadapan lurus dengan televisi itu, menikmati tontonan yang entah mengapa menjadi sedikit seram karena suara yang ditimbulkannya dan juga layar televisi yang menyorot ruangan gelap gulita sama seperti rumah ini. Hm. Horror movie? Aku mencoba menyenderkan punggu dan membiarkan kedua kaki berada dibawah meja tak terlalu tinggi antara ku dengan televisi yang tertempel di dinding.

Alah gelap terus! Mana ceritanya!

Gini doang mah, gue juga bisa bikin film horor!

Rugi ni nonton.

Tanganku mencoba meraih remot diatas meja, nihil. Aku mecoba dengan kedua kakiku yang seperti capit. Membuat remote jatuh dibawah meja. Dengan berat hati aku harus meninggalkan posisi wenak ini.

"AAAAAaAAAAAaAAaAaaa"

JEDUG!

Syit.

Benjol dah pala berbi.


00:02 // Homeyy

Lets do this!

Dua koper, satu ransel, satu dus, dan satu totebag.

Cukup lah ya buat lima bulan kedepan. Tapi nanti kalau barang ku kebanyakan gimana ya? Kalo kamarnya ga muat gimana? Haduhh. 

"Yuk?" Wajah mama kini terpantul dari cermin mini walk closet ku, ia duduk ditepi ranjangku dengan senyuman yang tak pernah hilang dari wajahnya. "Papa nunggu di mobil,"

"Ma, ini cukup gak?"

Ia hanya mengangguk lalu tersenyum lagi. "Kamu masih bisa ke rumah, setiap sabtu Mbak Mai kan kesini,"

Hmm. Tul ugha.

Tingtong. Tingtong.

Papa, Mama dan tentunya aku sudah berada didepan pintu rumah Tante Pal yang terdengar sunyi senyap tak ada kehidupan. Tak ada satu mobil pun yang terparkir diluar hmph.

"TANTE PAAAAAAL!"

"Hust, tata krama Velvet,"

00:01 // Nasi Goreng ku Sayang

Hoam.

Jam berapa sih ini?

toktoktok. 

"Velvet! Ayo sarapan! Mama papa mau ngomong sesuatu!"

toktoktok.

"Hmm. . . "

"Velvet sayang,"

"Ya ma,"

Beginilah gambaran hidup ku setiap harinya. Oh, mungkin juga tidak. Mama jarang sekali membangunkanku untuk sekolah. Kecuali ketika mama berangkat agak siang, mungkin seperti saat ini. Hari-hari ku selalu dibangunkan oleh Mbak Mai. Dia datang setelah mama papa pergi ke kantor. Dan catat, mereka pergi ke kantor sebelum matahari terbit. Jadi setidaknya aku tak harus bangun dengan mata panda disaat aku mengidap insomia hampir setiap malam. Dan aku baru bisa terlelap saat mendengar suara mesin mobil yang memasuki garasi rumah. Itu bertanda mereka sudah pulang.

Rabu, Juli 13, 2016

EmirLoveStory: "Stay, He Said" - PART 14




Emir's POV

"Nona Bianca dilantai tiga tuan,"

Aku segera melangkah menuju lift. Perjalanan yang sangat melelahkan. Lombok Jakarta itu lumayan jauh. Ya meskipun dengan jet pribadi tapi sama saja! Andai Cat menemaniku sepanjang perjalanan seperti dulu, meskipun saling diam. Namun aku menyukainya,

Ting.

Langkah kakiku yang besar segera memasuki lorong rumah sakit ini. Dan saat aku membuka pintu, Bianca tergeletak diatas ranjang tidak berdaya. Rianti tertidur disofa dengan wajah yang lelah.

Dasar anak bodoh!

Aku berdiri kaku disamping ranjangnya. Pergelangan tangan kanannya menempel selang infus dan sementara yang kiri terdapat perban disana yang masih ada bercak merahnya.

"kenapa harus bunuh diri kalau ujung-ujungnya masuk rumah sakit bodoh!" Aku sudah tak tahan menahan emosiku didepannya.

"Jangan berbicara seperti itu nak, bagaimanapun dia calon pendamping hidupku, ia merindukanmu.." Aku tahu itu suara Ranti. Mungkin ia terbangun gara-gara gertakanku.

"Dia bukan calon istriku, camkan itu!"

"Emir.. Bisakah kau membuka sedikit hati untuknya?"

"membuka hati untuk wanita ini? Saat ini saja dia sudah mencoba  membunuh diri sendiri! Bagaimana kalau ia membunuh anak kita kelak? Hah!"

Ranti menghembuskan napas dengan kasar. Aku yakin ia sangat frustasi mempunyai anak sepertiku.

"Tapi kau kemari karena kau khawatir kan?"

Aku terseyum remeh. "Lebih tepatnya seseorang yang ku cintai mengkhawatirkannya,"


Jumat, Oktober 16, 2015

EmirLoveStory: "Stay, He Said" - PART 13


Malam itu adalah malam dimana kami saling menemukan orang yang menghilang bertahun-tahun lamanya. Malam dimana kami menceritakan semua kisah kami semenjak perpisahan kami. Malam yang menghancurkan benteng penghalang antara kami.  Dan entahlah apa yang terjadi kedepan. Semua itu terasa sangat menyenangkan. Namun ada sesuatu berkata berbeda di dalam hati kecilku. Sesuatu yang harusnya tidak boleh terjadi..

Kami telah memiliki cerita masing-masing. Cerita berbeda yang tidak bisa disatukan. Emir dengan cerita kehidupannya dan aku pun begitu. Kita berbeda. Dia telah menjadi orang hebat dan aku hanyalah bawahannya.

Kadang aku pun menyadari kedekatan kami yang sudah melampaui batas antara bawahan dan atasan saat didepan banyak orang. Aku berusaha supaya membangun benteng pertahananku supaya aku tidak terjatuh lagi padanya. Mungkin usaha ku gagal jika hampir setial hari aku bertemu dengannya. Aku pun tak mengerti mengapa seorang direktur utama perusahaan sebesar miliknya harus turun tangan dalam pembuatan hotel ini.
Dan pagi ini aku sudah membuat janji dengannya untuk melihat rumah miliknya yang sudah 80 persen selesai digarap. Memang progress pembuatan rumah lebih cepat dibanding pembuatan hotel yang baru 30 persen.

Aku sudah tiba dirumah miliknya beberapa menit lalu, ada beberapa tukang disana yang sedang memasang platfom dan meletakkan berbagai macam prabotan rumah tangga. Pada awalnya  Emir mengusulkan akan berangkat bersama berhubung penginapan kami yang dekat dan tujuan kami sama, namun aku berusaha menolaknya dengan alasan aku harus mengurus beberapa hal teknis pembangunan rumah itu. Jadilah tiba lebih awal.


Senin, Juli 13, 2015

EmirLoveStory: "Stay, He Said" - PART 12



EMIR POV 

Aku sangat merindukan saat-saat seperti ini. Bisa melihatnya kembali. Seseorang yang akhirnya datang kembali dalam hidupku setelah menghilang beberapa tahun lamanya. Aku kira ia tak akan kembali, tetapi segera ku singkirkan dugaan buruk itu. Aku percaya bahwa suatu saat kami akan bertemu. Meskipun aku harus melewati beberapa tahun yang sangat berat dalam hidupku. Didepak dari keluarga besarku sendiri, lontang lantung dijalan, mencari uang sendiri untuk gelar sarjanaku, untuk hidupku dan untuk apapun yang aku butuhkan, aku mencarinya sendiri. 

Dan saat masa kejayaanku kembali, ia datang tanpa ku rencanakan sebelumnya. Sungguh indah bukan? Kerja kerasku selama ini tak akan sia-sia. Mungkin ini cara Tuhan mempersatukan kami kembali.  Ia sudah menjadi wanita yang angun dan dewasa. Aku pikir menjadi seorang arsitek wanita adalah hal yang membanggakan.  

Tapi bukan suatu kebetulan kami dapat bertemu, dan aku tak tahu pertemuan ini adalah keberuntungan atau kesialan saat ku mengetahui bahwa ia sudah memiliki tunangan. Musuhku sendiri. 

Karna terbawa emosi mungkin, dulu aku berencana untuk membebani Cat dengan membangun rumah didekat hotel. Tapi rasa sayangku ke wanita itu menghancurkan niat burukku. Aku terlalu menyayanginya dan merindukannya. Melihatnya pagi tadi saat kami berada dipesawat membuat aku merasa sangat bersalah kepadanya. Aku yakin ia tak makan secara teratur beberapa hari belakangan ini, bisa terlihat betapa pucat wajahnya dan aku melihat lenkungan berwarna hitam dibawah matanya yang aku pikir itu efek dari niat jahatku itu. Dan sejak saat itu, hilang sudah niat bejatku. 

Meskipun rencana untuk membebani Cat sudah luntur sepenuhnya, namun aku tidak akan membatalkan pembangunan rumah tersebut, karna dengan itu aku mempunyai kesempatan untuk lebih dekat dengannya. 

Aku tak tahu apa yang akan terjadi kedepan, aku juga tak mengetahui apa yang harus kulalukan. Mengingat prilakunya terhadapku seolah-olah kami baru saling kenal beberapa hari lalu. Sikapnya yang dingin dan acuh terhadapku membuatku harus bersabar menunggu Cat yang dulu kembali.

Mungkinkah ini yang dinamakan karma? Sempat aku berpikir seperti itu, karena dulu aku sempat menyia-nyiakannya saat awal pertemuan kami. 

Dilain sisi, aku sangat menyukai saat aku menggodanya dan muncul semburat kemerahan dipipinya, dia menjadi sangat lucu saat itu. Dan ketika ia mulai mengoceh karena sikapku, saat itu aku merasa Cat yang dulu ku kenal sudah kembali. 

Satu lagi, aku mulai menyukai saat ia memanggilku dengan sebutan diktator. Entah mengapa.. Mungkin karena baru dia bawahanku yang pertama kalinya menyebutku denan panggilan diktator didepan bossnya sendiri.  


"HEY!"

Aku sedikit terkejut mendengar gadis itu berteriak tepat ditelingaku. 

"Kenapa kau melihatku seperti itu?! Kau tidak berniat menenggelamkanku kelaut bukan?!!" Katanya dengan suara meninggi diakhir kalimat dan dengan aksen cemprengnya. 

Aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri, sehingga ku lupa, dia ada disini..

"Apa yang kau bilang tadi?" Tanyaku berusaha setenang mungkin, menahan tangan ini supaya tak menyentuh dan merapikan rambutnya yang terkena angin malam di pantai ini. Hati dan pikiranku kadang tak berjalan sempurna jika berada didepannya. 


EmirLoveStory: "Stay, He Said" - PART 11



Suasana restaurant tempat kami mengadakan acara jamuan makan tampak sederhana, tidak seperti makan malam sebelumnya yang dilakukan di hotel mewah atau restaurant yang elegant. Makan malam kali ini diadakan dipinggir pantai dengan berhiaskan cagak-cagak lampu, lampion yang berada diatas kami dan lilin disetiap mejanya yang menambah kesan romantis ditempat ini. Aku datang dengan teman-temanku.

Tadinya Raven mengusulkan untuk mengendarai mobil mewah itu sendiri-sendiri namun aku menolaknya. Akhirnya kami ber empat berangkat dengan mobil Audi yang dikemudikan oleh Andrew, karena mulai siang tadi Audi tersebut menjadi miliknya selama kami berada di Lombok, ya… meskipun itu adalah barang pinjaman—

Ohya kemana dia? Aku belum melihatnya malam ini.

iPhone ku menunjukan pukul 06.58

Ingat. iPhone ku. Bukan pemberian iPhone Emir.

iPhone pemberiannya dan seluruh barang mewah itu masih tersimpan rapih pada tas hitam dan mungkin aku akan mengembalikannya secepatnya.

Tepat pukul 07.00 suara gemuruh terdengar dari pintu masuk menuju restaurant tepi pantai, aku yakin itu adalah Emir dengan petinggi yang lain.

Selalu tepat waktu, batinku.

Aku saat ini tengah duduk bersama Dinda, Andrew dan Raven disalah satu kursi yang sedikit dipinggir dan memojok karena aku tak ingin bertemu dengannya. Dan benar saja seorang pria berpostur tubuh tegap dan memiliki rahang yang tegas dengan kemeja hitam dan celana bahan dengan warna senada memasuki restaurant ini dengan sedikit kalem namun tetap bisa mengeluarkan aura dinginnya. Oh! Bahkan dia tak sendiri! Disampingnya seorang wanita berparas manis dan cantik dengan gaun hitam diatas lutut mendampingi langkahnya. Membawa sebuah Tas yang berwarna hitam pekat dan heels yang sangat tinggi. Rambutnya yang hitam dan panjang diterpa angin menimbulkan kesan tak kalahdingin seperti pria yang berada disebelahnya. Dari jalannya aku bisa mengatakan bahwa ia adalah seorang yang high class. Dan aku…?

Kini aku memandangi gaun yang aku pakai, gaun merah tua tepat setinggi lututku dan flatshoes.

“Kenapa? Minder?” Tanya Andrew duduk tepat disampingku.

“Engga lah, dia bukan siapa-siapaku,” Ucapku yang mendusta pada hatiku sendiri yang merasakan gelenyar aneh.

Apa? Gelenyar Aneh?

HEY! Apa yang barusan kau katakana Cat! Kau Cemburu?!

Tidak,


Rabu, Juli 08, 2015

EmirLoveStory: "Stay, He Said" - PART 10



Jangan harap hidupku menjadi lebih baik semenjak bertemu dengannya. Tidur pagi, bangun kesiangan, makan sehari sekali, mandi itu pun kalau sempat. Mungkin tubuhku akan hancur beberapa saat lagi. 


Sudah dua hari aku melakukan pekerjaan ekstra ini dan belum selesai seutuhnya. Hidupku hanya berkutat didepan laptop. Dan.. Ohya. Aku lupa menghubungi Raskal. 



Aku mengambil iphoneku didalam tas dan mencoba mengirim pesan. 



To: Raskal



Hey boss, maaf akhir-akhir ini aku harus mengerjakan tugas. Bukan hotel sajaa kau tau, haru harus membuat rumah juga untuk



Tit//iphoneku mati dalam sekejap. 



Untuk...



Kalau aku memberitahu Raskal tentang proyek rumah ini tidak menutup kemungkinan untuk dia menyuruhku melepas proyek hotel ini. Bukan masalah uang yang aku pikirkan, tapi bagaimana dengan anggota timku yang lain. 



"Itu panggilan untuk pesawat kita!" Ujar Andrew yang membuat aku terkejut.



"Oh, siapkan tiketnya," Ucapku. 



"Ini," Balas Dinda dan kami langaung mengantri masuk menuju pesawat menuju Lombok ini. Dan saat ini lah semuanya akan terulang kembali. 



Teman-temanku sudah duduk dikursinya masing-masing, tetapi aku belum bisa menemukannya. Seorang pramugri dengan jubah biru dengan motif batik dibeberapa bagian menghampiriku. 



"Maaf, ada yang bisa dibantu?"



Aku memberikan tiketnya, "Saya kesusahan mencari tempat duduk,"



Pramugari itu mengangguk dan tersenyum kearahku, "Mari saya antar," 



Ia berjalan dikabin pesawat menjauh dari tempat duduk teman-temanku. Aku rasa aku memasuki buisness class? Siapa yang memesan tiket ini huh?



"Silahkan," 



Aku menatap pramugari itu dengan penuh tanda tanya sementara ia sudah pergi dari hadapanku. Untuk satu tiket economi class saja aku rasa sudah sangat mahal mengingat ini adalah tujuan lombok. Bagaimana dengan tempat duduk yang aku akan duduki ini?



Ah. Sudahlah. 



Akhirnya aku memutuskan untuk duduk dibagian dekat jendela karena barisan ini masih kosong. Yasudah lah. Iphone mati, tidak ada teman ngobrol, dan aku merasa tidak sepantasnya aku berada disini. Hah. Baru saja berangkat sudah seperti ini bagaimana nanti? Tinggal berapa hari saja di Lombok entah sampai kapan. Sampai semua proyek itu selesai? Sangat mungkin. Dan mungkin aku akan intensitasku bertemu dengannya akan lebih tinghi dibanding bertemu dengan Raskal.



Ha.. Raskal. 



Aku memandangi jari manisku yang hampa ini.




"Apa yang kau pikirkan nona?"



Suara bass yang sepertinya aku pernah mendengar?



Minggu, Juli 05, 2015

EmirLoveStory: "Stay, He Said" - PART 9

Catharine POV


iPhone, check. Dompet, check. Notebook, check. Berkas, check. Outfit? Perfect.

Aku melangkah pasti keluar dari hotel dan langsung bertemu dengan teman kuliah hingga merangkap menjadi karib perjuangan membuat biro yang sudah mendunia, Dinda namanya. Tubuhnya yang berisi dan otak cerdas membuat ia dikagumi banyak karyawanku.

"Cat, Siap? Pertemuan ada di Ritz Hotel. Lumayan macet,"

Aku mengendus, "Huh, Jakarta."

Setibanya di hotel berbintang yang kami tuju, dan memasuki ruang pertemuan yang sudah ramai. Aku, Dinda, Andrew, dan Raven. Kami tergabung dalam crew biro arsitektur yang terbentuk saat kami kuliah dulu hingga saat ini biro kami sudah mendunia.

"Selamat datang dalam acara pemilihan biro arsitek yang akan membuat Hotel berbintang lima di daerah Lombok. Langsung saja presentator pertama dimulai dari ART+ waktu dan tempat saya persilahkan."

Aku mengambil napas panjang dan melangkah menuju panggung bersama crew terbaikku. Terlihat dibarisan paling depan berjejer para petinggi Ritz Hotel yang akan membuka cabang di Lombok.