Berbulan-bulan telah ku lewati semenjak kejadian itu. Sejak saat itu, hidupku, hidupnya dan hidup kami berubah. Aku merasa telah menjadi seseorang yang sangat beruntung didunia ini. Bisa berada disampingnya hampir setiap saat. Pagi, siang, sore, malam dan setiap detik dalam hidupku.
Langkahku berhenti pada pinggir lapangan basket, suara pantulan bola terdengar hingga telingaku. Langanan yang tersembunyi dibalik sekolah dan mungkin kami berdua saja yang tahu. Hanya seorang disana berdiri tegap menghadap ring basket lengkap dengan kostum berangka 14. Entah mengapa ia menuliskan angka 14 dipunggungnya. Sengaja atau tidak, 14 adalah tanggal kelahiranku.
Dalam sekali tembakan mulus, three point dicetaknya. Refleks aku bertepuk tangan, membuat ia menoleh kearahku dan senyumnya mengembang. Manis. Dari dulu.
"Cat! One on one?"
"Tapi aku masih pake seragam.."
Tanpa basa basi Emir langsung mengoper bola basket dengan kecepatan sedang ke arahku. Perlahan tapi pasti aku memasuki area lapangan.
"One strawberry cheese cake frappe okey," Kataku menantang.
Itu bukan memesan semuah minuman, tapi bertaruh. Kalau aku menang berarti Emir harus mentraktirku. Sudah biasa kami bertaruh hal kecil seperti ini. Dan akhirnya dia lah yang lebih sering menang. Biasanya, taruhan Emir itu tidak jauh-jauh dari menemaninya menonton bioskop atau menonton konser musik atau menemaninya duduk di cafe favoritnya atau yang lain.
"oke, tapi kalo aku menang... Nanti malem kamu temenin aku nonton dirumah, gimana?"
Tanpa babibu aku langsung mengacungkan jempol.
Pertarungan pun dimulai, pergerakanku agak tergenggu karena baju seragam ini. keringat pun mulai membasahi tengkuk punggung dan pelipisku namun satu angkapun belum aku cetak. Sementara Emir sudah beberapa kali tak aku hitung.
Mataharipun menghilang diufuk barat. Dia menghentikan permainannya,
"Kenapa loyo baget?" Tanyanya..
Aku terengah-engah "Soalnya.. Masih.. Pakek.. Rok.. Gak enak mainnya.."
"Berarti aku menang ya?"
Aku mengangguk pasrah. Aku duduk dipinggir lapangan dengan badan penuh keringat dan begitu pula dengan semua pakaian yang aku kenakan. Emir menyusuk beberapa menit setelah ia menembakan beberapa bola yang mulus masuk ke ring basket.
"Bau lo Cat!"
"Ngaca!"
Napasku masih ngos-ngosan, seketika Emir menemparkan atasan seragam ke arahku. yang pas mengenai kepalaku.
"Gih sana pake.."
Aku mengambilnya dan merentangkannya. Baju yang berukuran sangat kebesaran dengan tubuhku.
"Gede banget.."
"Daripada kamu masuk angin, bajumu basah semua itu,"
Aku pun berdiri sambil membawa seragam itu menuju gerbang kecil menuju sekolahan.
"Mau kemana?"