Minggu, Maret 09, 2014

Emir Love Story: "Memories" PART 17 END


Place de la Concorde, 16:55

Kalau di Indonesia, tempat ini sering disebut sebagai alun-alun. Place de la Concorde ini alun-alun terbesar di kota Paris, dimana setiap orang yang duduk dibangku taman ini akan merasakan ketenangan dan kenyamanan. 

Hal itu yang dirasakan olehku, duduk berdua disebuah bangku taman dengan Emir. Menikmati indahnya kota Paris pada sore hari menjelang matahari terbenam. 

Aku ingat, aku masih menyimpan kotak kecil yang Emir tinggalkan di rumahku. Aku mengeluarkannya dari tas, dan memberikannya kepada Emir.

“Apa in--..” Kata-kata Emir tercekat saat ia mengetahui isi dari kotak ini adalah sebuah cincin darinya.

“Kamu nemuin kotak ini?” Tanyanya, aku membalas dengan anggukkan. 

“Nemu dimana?”

“Diantara kotak coklat yang lain. Ini kotak coklat yang paling kecil..” kataku

“Kamu tau ini dari siapa?” Tanya Emir lagi.

“Kalo aku gak tau ini dari siapa, aku gak akan terbang jauh-jauh Jakarta-Paris hanya bermodalkan Cinta. Cuma buat nyusul kamu, Emir Mahira Salim..” Jawabku, sedikit menyobongkan diri.

Emir terpana melihat perjuanganku.

“Jadi.. Kamu..” Dia tersenyum manis. 

Selasa, Desember 31, 2013

Emir Love Story: "Memories" - PART 16



Sore hari ini Bandara Soekarno Hatta terlihat sangat ramai, sama seperi pikiranku, kacau. Sesampainya ditempat ini aku langsung mencari LED TV yang menampilkan jadwal keberangkatan manuju Paris. Ah, pukul 16:45 salah satu pesawat Garuda Indonesia akan lepas landas. "Aku yakin Emir pasti sedang berada pada pesawat ini..!”
 
Aku segera berjalan cepat menuju counter Maskapai Garuda Indonesia tanpa memerhatikan sekelilingku. 

“Selamat sore bu, ada yang bisa saya bantu?” Tanya seorang wanita cantik yang berdiri dibalik kaca didepanku.

“Apa ada satu tiket tersisa untuk keberangkatan menuju Paris sore ini?”
 
“Saya akan mencarinya..”

Aku menunggu sambil berdoa supaya ada secercah harapan dan keajaiban aku bisa bertemu dengan Emir secepatnya. 

Aku menahan napas saat wanita itu membuka mulutnya untuk menentukan nasibku. Sepertinya harapan tidak selamanya akan sesuai dengan kenyataan. 

Tiket menuju Paris sore ini sudah habis, dan lebih buruknya. Pesawat itu sudah berangkat sepuluh menit yang lalu.

“Keberangkatan selanjutnya nanti malam pukul sepuluh, dan tiket sudah terjual habis..”

“Baik, terimakasih..”

Pupus sudah harapanku akan bertemu laki-laki jangkung itu. Aku segera mencari tiket lagi dibeberapa counter maskapai internasional yang mungkin bisa mambawaku pada salah satu kota teromantis di dunia. 

Aku rela mengeluarkan berapa uang pun supaya aku dapat terbang menuju Paris, meski itu akan menghabiskan sebagian gajiku untuk sebulan ini. Dan disinilah aku, berdiri mematung ditengah keramaian bandara Paris

Rabu, Desember 25, 2013

Emir Love Story: "Memories" - PART 15

Aku tiba pukul sembilan malam, gerbang terlihat rapat tertutup, begitu pula dengan pintu luar. Suara nyaring dari siaran televisi tak terdengar saat aku masuk ruang tamu. Biasanya, Kai atau Emir masih selonjoran di sofa menunggu siaran langsung liga inggris atau spanyol. Aku beranikan diri untuk melihat ke taman belakang, kosong. Aku melangkah menuju kamar Kai, dikunci. Begitu pula kamar Emir yang bersebelahan. Rumah ini sepi. Sangat. Pasti bibi sudah tidur. Aku tak ingin mengganggunya, mungkin besok, keadaan akan lebih baik. 
Toktoktok.. 
Sudah dua hari pintu kamar Emir dan Kai terkunci rapat. Aneh. Mereka tak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Ini membuat aku sangat gerah.
"Bibi.." Panggilku saat aku berada di dapur.

"Ya non?" Balasnya.

"Bi, kamar Emir sama adiknya dikunci gitu. Bibi tau kemana?" Tanyaku. Bibi terlihat menghindari tatapan mataku yang tajam. Sesuatu yang janggal.. "Bi?" Alisku terangkat satu. 
"Den Emir sama adiknya pergi non," Bibi menjelaskan dengan sangat lamban dan ragu-ragu untuk menceritakannya. "Bawa koper yang gede keluar--"
"Mereka kemana?!" Aku memotong penjelasan Bibi, aku sangat khawatir. 
"Gak tau non, mereka bilang mau balik.." Jawabnya. 

Rabu, Oktober 16, 2013

Emir Love Story: "Memories" - PART 14





"Ehem. Ada yang lagi mikirin aku ya?" Suara Emir tiba-tiba terdengar keras di telingaku. Aku pastikan wajah Emir berada diatas bahu kananku persis. Aku hanya bisa menghembuskan napas berat. 

"Engga lah, lagian kamu kan cuma pergi sebentar." Kataku. 

Hening..

"Van..?" Panggil Emir yang masih dalam posisi seperti itu.

"Liat ke kanan deh.." Pinta Emir. Aku tahu yang akan terjadi setelah ini. Saat aku mengalingkan pandangan ku ke arah Emir.. Hap! Bibir Emir mendarat mulus di pipiku. Emir.. 

Tapi sepertinya bukan itu saja kejutan dari Emir. Aku melihat bungkusan plastik yang sangat besar berada diatas kap mesin Rush. Plastik besar yang memuat beberapa kotak yang bisa aku pastikan itu berisi coklat. Aku segera berlari mengambil plastik itu dan membawanya kembali ke sofa. Aku bongkar paksa isi plastik itu. Yes. Benar! Plastik ini penuh dengan kotak-kotak coklat! Dari coklat berbentuk persegi panjang hingga bulat. Dari dark chocolate hingga sweet chocolate. Dari coklat berwarna putih hingga coklat tua. Dari coklat dalam negeri ataupun luar negeri. Ini sangat.. Luaar biasaaa! 

Emir Love Story: "Memories" - PART 13

Hari ini menginjak hari ke tiga dia dan adiknya tinggal di rumahku. Kalau bukan gara-gara Mama, mungkin mereka tak akan ada disini dan mungkin aku tak akan pernah memperbaiki hubunganku dengan Emir.

Tiga hari ini terakhir ini, aku juga bertugas untuk menyiapkan sarapan untuk mereka. Tentunya dibantu oleh bibi. Telur mata sapi, sosis rebus, roti panggang dan selai tiga rasa sudah terpajang di meja makan. Tak lama mama menghampiriku, dengan baju yang rapih. 

"Mama pergi dulu ya sayang.. Ada client di butik kita." Katanya sambil mencium pipi ku. 

Pergi? Bukankah selama tiga hari penuh ini dia selalu pergi? Bahkan kita hanya bertemu dipagi hari dan malam hari. Lalu, buat apa Mama ke Jakarta kalau hanya mengurusi butik-butik itu? Apakah butik-butik Mama saja yang butuh perhatian? Aku apa, Ma?