Aku tiba pukul sembilan malam,
gerbang terlihat rapat tertutup, begitu pula dengan pintu luar. Suara
nyaring dari siaran televisi tak terdengar saat aku masuk ruang tamu.
Biasanya, Kai atau Emir masih selonjoran di sofa menunggu siaran
langsung liga inggris atau spanyol. Aku beranikan diri untuk melihat ke
taman belakang, kosong. Aku melangkah menuju kamar Kai, dikunci. Begitu
pula kamar Emir yang bersebelahan. Rumah ini sepi. Sangat. Pasti bibi
sudah tidur. Aku tak ingin mengganggunya, mungkin besok, keadaan akan
lebih baik.
Toktoktok..
Sudah dua hari pintu kamar Emir
dan Kai terkunci rapat. Aneh. Mereka tak pernah melakukan hal seperti
ini sebelumnya. Ini membuat aku sangat gerah.
"Bibi.." Panggilku saat aku berada di dapur.
"Ya non?" Balasnya.
"Bi, kamar Emir sama adiknya dikunci gitu. Bibi tau kemana?" Tanyaku. Bibi terlihat menghindari tatapan mataku yang tajam. Sesuatu yang janggal.. "Bi?" Alisku terangkat satu.
"Den Emir sama adiknya pergi
non," Bibi menjelaskan dengan sangat lamban dan ragu-ragu untuk
menceritakannya. "Bawa koper yang gede keluar--"
"Mereka kemana?!" Aku memotong penjelasan Bibi, aku sangat khawatir.
"Gak tau non, mereka bilang mau balik.." Jawabnya.