Senin, Agustus 01, 2016

00:02 // Homeyy

Lets do this!

Dua koper, satu ransel, satu dus, dan satu totebag.

Cukup lah ya buat lima bulan kedepan. Tapi nanti kalau barang ku kebanyakan gimana ya? Kalo kamarnya ga muat gimana? Haduhh. 

"Yuk?" Wajah mama kini terpantul dari cermin mini walk closet ku, ia duduk ditepi ranjangku dengan senyuman yang tak pernah hilang dari wajahnya. "Papa nunggu di mobil,"

"Ma, ini cukup gak?"

Ia hanya mengangguk lalu tersenyum lagi. "Kamu masih bisa ke rumah, setiap sabtu Mbak Mai kan kesini,"

Hmm. Tul ugha.

Tingtong. Tingtong.

Papa, Mama dan tentunya aku sudah berada didepan pintu rumah Tante Pal yang terdengar sunyi senyap tak ada kehidupan. Tak ada satu mobil pun yang terparkir diluar hmph.

"TANTE PAAAAAAL!"

"Hust, tata krama Velvet,"

00:01 // Nasi Goreng ku Sayang

Hoam.

Jam berapa sih ini?

toktoktok. 

"Velvet! Ayo sarapan! Mama papa mau ngomong sesuatu!"

toktoktok.

"Hmm. . . "

"Velvet sayang,"

"Ya ma,"

Beginilah gambaran hidup ku setiap harinya. Oh, mungkin juga tidak. Mama jarang sekali membangunkanku untuk sekolah. Kecuali ketika mama berangkat agak siang, mungkin seperti saat ini. Hari-hari ku selalu dibangunkan oleh Mbak Mai. Dia datang setelah mama papa pergi ke kantor. Dan catat, mereka pergi ke kantor sebelum matahari terbit. Jadi setidaknya aku tak harus bangun dengan mata panda disaat aku mengidap insomia hampir setiap malam. Dan aku baru bisa terlelap saat mendengar suara mesin mobil yang memasuki garasi rumah. Itu bertanda mereka sudah pulang.

Rabu, Juli 13, 2016

EmirLoveStory: "Stay, He Said" - PART 14




Emir's POV

"Nona Bianca dilantai tiga tuan,"

Aku segera melangkah menuju lift. Perjalanan yang sangat melelahkan. Lombok Jakarta itu lumayan jauh. Ya meskipun dengan jet pribadi tapi sama saja! Andai Cat menemaniku sepanjang perjalanan seperti dulu, meskipun saling diam. Namun aku menyukainya,

Ting.

Langkah kakiku yang besar segera memasuki lorong rumah sakit ini. Dan saat aku membuka pintu, Bianca tergeletak diatas ranjang tidak berdaya. Rianti tertidur disofa dengan wajah yang lelah.

Dasar anak bodoh!

Aku berdiri kaku disamping ranjangnya. Pergelangan tangan kanannya menempel selang infus dan sementara yang kiri terdapat perban disana yang masih ada bercak merahnya.

"kenapa harus bunuh diri kalau ujung-ujungnya masuk rumah sakit bodoh!" Aku sudah tak tahan menahan emosiku didepannya.

"Jangan berbicara seperti itu nak, bagaimanapun dia calon pendamping hidupku, ia merindukanmu.." Aku tahu itu suara Ranti. Mungkin ia terbangun gara-gara gertakanku.

"Dia bukan calon istriku, camkan itu!"

"Emir.. Bisakah kau membuka sedikit hati untuknya?"

"membuka hati untuk wanita ini? Saat ini saja dia sudah mencoba  membunuh diri sendiri! Bagaimana kalau ia membunuh anak kita kelak? Hah!"

Ranti menghembuskan napas dengan kasar. Aku yakin ia sangat frustasi mempunyai anak sepertiku.

"Tapi kau kemari karena kau khawatir kan?"

Aku terseyum remeh. "Lebih tepatnya seseorang yang ku cintai mengkhawatirkannya,"


Jumat, Oktober 16, 2015

EmirLoveStory: "Stay, He Said" - PART 13


Malam itu adalah malam dimana kami saling menemukan orang yang menghilang bertahun-tahun lamanya. Malam dimana kami menceritakan semua kisah kami semenjak perpisahan kami. Malam yang menghancurkan benteng penghalang antara kami.  Dan entahlah apa yang terjadi kedepan. Semua itu terasa sangat menyenangkan. Namun ada sesuatu berkata berbeda di dalam hati kecilku. Sesuatu yang harusnya tidak boleh terjadi..

Kami telah memiliki cerita masing-masing. Cerita berbeda yang tidak bisa disatukan. Emir dengan cerita kehidupannya dan aku pun begitu. Kita berbeda. Dia telah menjadi orang hebat dan aku hanyalah bawahannya.

Kadang aku pun menyadari kedekatan kami yang sudah melampaui batas antara bawahan dan atasan saat didepan banyak orang. Aku berusaha supaya membangun benteng pertahananku supaya aku tidak terjatuh lagi padanya. Mungkin usaha ku gagal jika hampir setial hari aku bertemu dengannya. Aku pun tak mengerti mengapa seorang direktur utama perusahaan sebesar miliknya harus turun tangan dalam pembuatan hotel ini.
Dan pagi ini aku sudah membuat janji dengannya untuk melihat rumah miliknya yang sudah 80 persen selesai digarap. Memang progress pembuatan rumah lebih cepat dibanding pembuatan hotel yang baru 30 persen.

Aku sudah tiba dirumah miliknya beberapa menit lalu, ada beberapa tukang disana yang sedang memasang platfom dan meletakkan berbagai macam prabotan rumah tangga. Pada awalnya  Emir mengusulkan akan berangkat bersama berhubung penginapan kami yang dekat dan tujuan kami sama, namun aku berusaha menolaknya dengan alasan aku harus mengurus beberapa hal teknis pembangunan rumah itu. Jadilah tiba lebih awal.


Senin, Juli 13, 2015

EmirLoveStory: "Stay, He Said" - PART 12



EMIR POV 

Aku sangat merindukan saat-saat seperti ini. Bisa melihatnya kembali. Seseorang yang akhirnya datang kembali dalam hidupku setelah menghilang beberapa tahun lamanya. Aku kira ia tak akan kembali, tetapi segera ku singkirkan dugaan buruk itu. Aku percaya bahwa suatu saat kami akan bertemu. Meskipun aku harus melewati beberapa tahun yang sangat berat dalam hidupku. Didepak dari keluarga besarku sendiri, lontang lantung dijalan, mencari uang sendiri untuk gelar sarjanaku, untuk hidupku dan untuk apapun yang aku butuhkan, aku mencarinya sendiri. 

Dan saat masa kejayaanku kembali, ia datang tanpa ku rencanakan sebelumnya. Sungguh indah bukan? Kerja kerasku selama ini tak akan sia-sia. Mungkin ini cara Tuhan mempersatukan kami kembali.  Ia sudah menjadi wanita yang angun dan dewasa. Aku pikir menjadi seorang arsitek wanita adalah hal yang membanggakan.  

Tapi bukan suatu kebetulan kami dapat bertemu, dan aku tak tahu pertemuan ini adalah keberuntungan atau kesialan saat ku mengetahui bahwa ia sudah memiliki tunangan. Musuhku sendiri. 

Karna terbawa emosi mungkin, dulu aku berencana untuk membebani Cat dengan membangun rumah didekat hotel. Tapi rasa sayangku ke wanita itu menghancurkan niat burukku. Aku terlalu menyayanginya dan merindukannya. Melihatnya pagi tadi saat kami berada dipesawat membuat aku merasa sangat bersalah kepadanya. Aku yakin ia tak makan secara teratur beberapa hari belakangan ini, bisa terlihat betapa pucat wajahnya dan aku melihat lenkungan berwarna hitam dibawah matanya yang aku pikir itu efek dari niat jahatku itu. Dan sejak saat itu, hilang sudah niat bejatku. 

Meskipun rencana untuk membebani Cat sudah luntur sepenuhnya, namun aku tidak akan membatalkan pembangunan rumah tersebut, karna dengan itu aku mempunyai kesempatan untuk lebih dekat dengannya. 

Aku tak tahu apa yang akan terjadi kedepan, aku juga tak mengetahui apa yang harus kulalukan. Mengingat prilakunya terhadapku seolah-olah kami baru saling kenal beberapa hari lalu. Sikapnya yang dingin dan acuh terhadapku membuatku harus bersabar menunggu Cat yang dulu kembali.

Mungkinkah ini yang dinamakan karma? Sempat aku berpikir seperti itu, karena dulu aku sempat menyia-nyiakannya saat awal pertemuan kami. 

Dilain sisi, aku sangat menyukai saat aku menggodanya dan muncul semburat kemerahan dipipinya, dia menjadi sangat lucu saat itu. Dan ketika ia mulai mengoceh karena sikapku, saat itu aku merasa Cat yang dulu ku kenal sudah kembali. 

Satu lagi, aku mulai menyukai saat ia memanggilku dengan sebutan diktator. Entah mengapa.. Mungkin karena baru dia bawahanku yang pertama kalinya menyebutku denan panggilan diktator didepan bossnya sendiri.  


"HEY!"

Aku sedikit terkejut mendengar gadis itu berteriak tepat ditelingaku. 

"Kenapa kau melihatku seperti itu?! Kau tidak berniat menenggelamkanku kelaut bukan?!!" Katanya dengan suara meninggi diakhir kalimat dan dengan aksen cemprengnya. 

Aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri, sehingga ku lupa, dia ada disini..

"Apa yang kau bilang tadi?" Tanyaku berusaha setenang mungkin, menahan tangan ini supaya tak menyentuh dan merapikan rambutnya yang terkena angin malam di pantai ini. Hati dan pikiranku kadang tak berjalan sempurna jika berada didepannya.