Film “Soekarno : Indonesia Merdeka!” atau yang sering kita kenal sebagai "Film Soekarno" rencanannya akan tayang di bioskop pada tanggal 22 Desember 2013. Film ini baru saja mulai melakukan pengambilan gambar di Desa Weji, Klaten - Yogyakarta.
Kamis, Mei 16, 2013
Jumat, Mei 10, 2013
Emir Love Story "Tak ada yang Tak Mungkin" Part 37
"Anak saya mana? Dia kenapa?! Kenapa bisa disini?!" Kata mama Gue. Bastian tiba-tiba berdiri dan nunjuk Emir "Semua gara-gara dia tante! Dia!" Emir cuma bisa meratap. "Bas udahlah. Damai napa lo pada. Bukan dia yang salah.." Kata Radit menenangkan.
"Dia didalem,
tunggu disini aja tante.." lanjut Radit. Mama gue duduk disebelah emir.
Mereka berdua tak berbicara. Mama gue nangis parah. Mereka hanya bisa berdoa.
Satu persatu tementemen gue dateng. Dokter keluar. Tapi dia tak berkata
sepatah katapun. Anak2 kelas mulai memenuhi lorong itu. Airmata bercucuran.
Emir mulai menyapa mama gue. "Tante.." tapi mama gue tak bisa
menjawab. "Tante, Maaf. Mungkin dia jadi seperti ini gara-gara Emir
tante.. Emir ngaku salah. Maaf kalau Emir telat ngasih taunya.." bibir
mama gue terbukapun tidak. Apalagi mengeluarkan suara. "Tante,
sebenernya.. Dia sakit apa?" "Kamu tidak tau?! Dia kanker darah
stadium akhir! Kanker darah belum ditemukan obatnya sampai detik ini! Apa
yang kamu lakukan sekarang?! Hanya menangis dan tidak melakukan
sesuatu?!" "Maaf tan.. Mungkin selama ini Emir memang salah menjaga
dia." "Apa gue bilang! LO YANG SALAH!" Bentak Bastian.
"iya! EMIR SALAH. puas lo Bas? Lo coba diposisi gue! Lo bakal ngapain
coba! kalo udah kaya gini?! Apa Bas?!" Emir pergi dari hadapan orang
banyak itu. Pergi ke parkiran. Dan dengan kecepatan tinggi melaju menuju
rumah gue. Semua kekunci. Halaman depan kotor parah. Daun kering berserakan
dimana2 tertiup angin. Dia manjat pager dan naik ke kamar gue. Sama seperti
diluar kamar gue juga gak kalah berantakan.
Emir hanya bisa duduk dan terdiam. Semua kenangan emir dg gue, secara tibatiba muncul satupersatu dikepala emir. Dari awal, waktu kita masih musuhan. Waktu Emir masih nindas gue. Waktu Emir nyelamatin gue dari kecelakaan2.
|
|
Senin, Mei 06, 2013
Emir Love Story "Tak ada yang Tak Mungkin" Part 36
Midnight.
Gue terbangun. Emir berada disamping gue lagi tertidur. Untung kali ini gak terjadi apa2. Gue mengambil secarik kertas&pulpen. Menulis apa yang ada dihati dan pikiran gue sekarang. setelah itu gue hanya memegang tangan emir.
gue tertidur lagi. Gak beberapa lama emir kebangun dan melihat tangan gue ada ditangan dia. Emir hanya membenarkan posisi selimut gue. Gue kebangun. "eh sorry, kamu jadi kebangun" "gak kok" "udah tidur lagi.." "mir, seandainya malam ini, malam terakhir aku. Dan belum pamit sama mama-papa aku, tolong kasih ini ya.." gue ngasih surat yang tadi gue buat. "Malam terakhir? Apa maksudnya?!"
Cengen abis gue. Air mata gue gak bisa gue bendung lagi!
"Dari jauh sana.. Pasti aku akan merindukan kamu mir.. Jaga diri kamu baik2 ya. I always love you."
Gue memejamkan mata. Diluar dari diri gue, Emir masih bingung dg kata2 gue. Dia melontarkan beribu2 pertanyaan, tapi tak ada satupun dari pertanyaan dari Emir itu yang gue jawab. Tambah bingunglah dia. Mungkin ini saatnya gue barus berpisah dengan dirinya. Gue berdoa.
"Tuhan.. Tuhan yang baik, aku lelah Tuhan. Lelah untuk menanggung semua ini. Tuhan pasti tahu apa yang aku inginkan. Satu pintaku ya Tuhan. Tolonglah Engkau sampaikan kepada semua teman-teman yang pernah aku kenal, kepada sahabat-sahabat yang paling aku sayangi, kepada semua orang yang telah membuat aku bertahan sampai detik ini
|
Jumat, Mei 03, 2013
Emir Love Story "Tak ada yang Tak Mungkin" Part 35
Emir pun menjawab pertanyaan gue dengan perlahan..
"tadi jantung kamu gak stabil. Dokter datengnya lama banget. Aku bingung harus ngapain. Dari luar aku cuma bisa liat kamu ... Beberapa kali gagal. Sampai dokternya udah putusasa.. Pas dokternya keluar, aku mohon2 buat nyoba sekali lagi.. Dan hasilnya... :)"
mendengar perkataan itu gue langsung memeluk emir. "Harusnya bukan kamu yang ada diposisi ini. Harusnya aku. Andai Tuhan mengabulkan doaku, aku ingin bertukar posisi denganmu.." "mir.. Udah jangan ngomong gitu.. Aku masih kuat mir.." segerombolan orang mengelilingi kita berdua. Mereka anak2 kelas dan orang2 yg deket dg gue. Semua dateng. Mereka berdoa utk kesembuhan gue. Saat mereka keluar, terdengar langkah kaki yg cepat mendekati kamar. Dari jendela anak kelas mengerubungi orang itu. Dia pun masuk, dan mendekat ke gue dan emir. "Bastian?" tanya emir. "iya ini gue!" Mereka berpelukan ala anak futsal.(?) "Lo kenapa?" matanya bastian berkaca2 melihat gue seperti ini. "gue mikirin lo terus gila. Gue kangen sama kalian. Sampe kebawa mimpi!" "hahaha bastian lebay nih" kata gue. "serius! Tadi malem gue dapet kabar lo masuk rs. Saat itu juga gue mesen tiket. Utungnya dapet :D" kita bertiga saling ngobrol dan ngobrol. Radit dateng juga disaat yg pas. Melepas kerinduan yang panjang.
Terlintas dibenak gue, kalau gue gak sakit kaya gini mungkin gak akan ngumpul seperti ini ya?"Bas, lo balik kapan?" tanya Emir. "Belom tau, gue belom mesen tiket balik.. Rencananya gue mau nemenin lo, mir. Buat nungguin dia.."
|
Jumat, April 26, 2013
Emir Love Story "Tak ada yang Tak Mungkin" Part 34
Gue coba telpon emir lagi.
"Hello?" "Mir?" " ya? Aku lagi dijalan.. Tunggu ya. Aku pasti kesitu"
Yah.. Emir gak bisa ditelepon. Gue tunggu satu jam, tapi belum juga datang. Sampai gue ke tiduran, dan membuka mata kembali sampai pukul 9pagi. Pusing mendera kembali. Satu yang ada dipikiran gue. Kenapa harus gue yang penyakit gak jelas ini? Penyakit yang belum diketahui ini?
Bangun2 gue udah pindah kamar lagi. Alat yang gak jelas itu tambah banyak disekeliling gue . Ruangan yang besar dan hanya gue didalamnya. Gue menunggu sampai ada orang yang sadar bahwa gue udah bangun sekarang. Sampai jauh didepan gue terlihat dibalik kaca jendela ada yang menengok ke dalam. Gue segera melambaikan tangan gue meskipun lemes. Dan dia menyadarinya. Segera dia masuk, dan ternyata itu Emir. "Eh kamu udah bangun ya.." gue pengen bilang bilang, gue kenapa? Tapi emir ngelarang gue buat lepas alat yang nutup mulut gue tu, dan dia mengembilkan secarik kertas dan sebuah pulpen. Gue menulis pertanyaan gue tadi. Emir menjawab "kita belum dikasih tau.. Harus orang tua kandung yang dikasih tau pertama. Tapi aku yakin.. Kamu gak kena penyakit yang parah. Kamuan kuat! :)" gue nulis lagi. "Mama lagi diluar" emir jawab "iya.. Kita lagi nyoba hubungin mama kamu, tapi..ya.. nihil" mendengar perkataan itu gue hanya bisa menutup mata dan meneteskan air mata yang lumayan deras mengalir. "Kamu jangan takut.. Aku akan selalu disamping kamu, sampai mama kamu datang kesini.. Aku janji. Janji sejanjijanjinya.. Kamu pasti bisa ngelewatin ini! Kamu kuat! :)"Dia cuma bisa bilang kuat! Tapi dia gak pernah tau gimana perasaan gue sekarang! Gimana sakitnya nahan penyakit ini! Gimana sakitnya ditelantarkan orang tua disaat2 kaya gini! Dia gak pernah bisa jadi gue.
"Udah jangan nangislah.." dia menghapus air mata gue. Gue mencoba tidur, ingin rasanya gue bisa bertemu mama gue lagi seperti waktu kemarin. Gue memikirkan mama gue lagi, sampai kepala gue pusing berat, akhirnya gue bisa melihat kembali mama gue didepan mata gue. Masih aja sibuk. Gue berusaha mencari phonenya, meskipun gue harus merakak sekalipun. Gue menjatuhkan hpnya yang membuatnya kaget dan menyentuh phonenya.
"misscall?" dilihatnya misscall dari nomer gue, mbak, pak rusdi dan rumah sakit. Sebelum gue berbicara dengannya, dada gue kaya ketusuktusuk sakit gak bisa ditahan.
"misscall?" dilihatnya misscall dari nomer gue, mbak, pak rusdi dan rumah sakit. Sebelum gue berbicara dengannya, dada gue kaya ketusuktusuk sakit gak bisa ditahan.
Gue kembali kedunia nyata.
Mata gue membuka dan melihat sekumpulan dokter dan suster mengelilingi gue dengan alat pembangit jantung gitu. Muka gue langsung berubah freak. Muka mereka terlihat lega. Gue gak berani berkata2 meski alat yg menutup mulut gue tidak dipasang lagi. Mereka keluar, dan gue pun ditinggal sendiri. Dibalik kaca terlihat orang banyak berkumpul. Mondar-mandir ataupun hanya duduk dan menangis. Seorang dari mereka mendekati pintu dan masuk kedalam ruangan.
"Mir, ad..a..a..pa..?" dia tak menanggapi. Hanya duduk disebelah gue man mengelus2 rambut dan pipi gue. Dia meneteskan air mata. Seumur hidup gue selama mengenal emir, gue gak pernah sekalipun melihat air mata emir jatuh. Melihat matanya berkaca2 sekalipun engga. Membuat gue shock. "Emir kenapa?" matakita saling berpandangan...........
"Mir, ad..a..a..pa..?" dia tak menanggapi. Hanya duduk disebelah gue man mengelus2 rambut dan pipi gue. Dia meneteskan air mata. Seumur hidup gue selama mengenal emir, gue gak pernah sekalipun melihat air mata emir jatuh. Melihat matanya berkaca2 sekalipun engga. Membuat gue shock. "Emir kenapa?" matakita saling berpandangan...........
Langganan:
Postingan (Atom)