toktok.
hm.
toktok.
hmm.
"eh, ngapain di--"
hoam.
duh pegel banget ni badan.
Aku mencoba memulai merasakan dunia sekitar. Ohya. Tidur di jok pengemudi adalah salah satu hal yang buruk. Kaki disilangkan di atas jok membuat kesemutan. Kepala yang bersandar distir, tangan yang terjulur hingga dasboard dan rambut yang pasti menjulur acak-acakan. Dan he?! Siapa orang yang mengintip di kaca sebelahku?!
"Brisikk. ." "Klakson. . " Dia bertingkah menutup telinga dan berputar-putar tak jelas.
Aku mengangkat kepala yang sangat berat dan menyenderkannya di jok. Tidur yang sangat lama. Sangat. . Mungkin. Setidaknya aku bisa memastikan pria-pria ini tak pergi tidak akan pernah muncul keluar dari rumah ini, kecuali seorang pria yang masih mengetokngetok kaca mobil dengan brisiknya. Menambah beban kepalaku.
Dengan setengah kesadaran, aku membuka pintu dan turun dari mobil yang ku perkirakan masih dalam keadaan mesin menyala. Maafkan Velvet, Om Brian. Salahkan ponakanmu jika mobil ini rusak.
"Lo siapa? Ngapain tidur di dalem? Kenapa bisa di mobil Emir? Kenapa gak masuk? Lo tau gak sih klaksonnya bunyi?! Untuk yang dateng gue, bukan anak kampung sebelah. Brisik tau gak? Eh. Bukannya lo yang nabrak Emir waktu--"
Bawel lah abang, cipok nih.